Menyoal Kemerdekaan dalam Pendidikan

  • Bagikan
Erwin Prastyo

|| Erwin Prastyo*

Setiap tanggal 17 Agustus, kita merayakan peringatan kemerdekaan. Bendera Merah Putih dikibarkan, upacara digelar, berbagai perlombaan tujuh belasan diadakan, dan malam tirakatan menjadi ruang untuk mengenang perjuangan para pendahulu. Semua itu menjadi bagian dari agenda tahunan bangsa Indonesia.

Namun, setelah 81 tahun Indonesia merdeka, sudahkah kemerdekaan benar-benar memerdekakan?

Pertanyaan ini bukan untuk mengerdilkan makna proklamasi. Justru sebaliknya, mempertanyakan makna kemerdekaan merupakan cara untuk merawat cita-cita kemerdekaan itu sendiri. Merdeka bukan sekadar terbebas dari penjajahan. Merdeka berarti mampu menentukan nasib sendiri, bebas berpikir dan menyampaikan gagasan, tidak dikekang, sekaligus bertanggung jawab atas kebebasan tersebut.

Sebagai guru, saya melihat pendidikan sebagai salah satu tolok ukur penting untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pendidikan merupakan hak setiap warga negara sekaligus fondasi masa depan bangsa. Oleh karena itu, kemerdekaan semestinya tercermin dari sejauh mana setiap anak memperoleh hak atas pendidikan yang layak, adil, dan bermakna.

Namun, kenyataan yang terjadi, kita masih menyaksikan berbagai kesenjangan. Ada sekolah dengan fasilitas lengkap dan akses teknologi yang luas, tetapi ada pula sekolah yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Ada anak yang mudah memperoleh buku dan berbagai sumber belajar, sementara anak lainnya menghadapi keterbatasan ekonomi untuk sekadar membeli alat tulis.

Pendidikan yang merdeka semestinya tidak hanya memastikan anak dapat bersekolah. Pendidikan harus membuka kesempatan yang adil bagi setiap anak untuk tumbuh, berpikir, bertanya, dan menentukan masa depannya.

Di sinilah kebijakan pendidikan perlu terus diuji. Berbagai agenda baru, termasuk digitalisasi, koding, dan kecerdasan artifisial, tentu memiliki relevansi dengan perkembangan zaman. Namun, kita perlu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Jangan sampai sesuatu dianggap penting hanya karena kehadirannya yang baru dan tampak modern.

Apakah semua itu benar-benar menjadi kebutuhan paling mendesak bagi anak Indonesia? Apakah sekolah sudah siap? Apakah guru memiliki ruang untuk menguasainya? Apakah inovasi tersebut benar-benar mampu membuat pembelajaran lebih bermakna?

Pertanyaan semacam itu bukan bentuk penolakan terhadap perubahan. Justru, pendidikan membutuhkan perubahan yang berpijak pada kebutuhan nyata.

Guru berada di garis depan perubahan tersebut. Kebijakan pendidikan datang silih berganti. Guru dituntut mengikuti perkembangan, menguasai berbagai kompetensi, memenuhi administrasi, dan pada saat yang sama menghadirkan pembelajaran yang bermakna.

Jangan sampai guru hanya tampak sibuk menjalankan berbagai program hingga kehilangan kesempatan untuk membangun ikatan dengan murid.

Namun, ada satu persoalan yang tidak boleh luput ketika kita berbicara tentang masa depan pendidikan, yakni kesejahteraan guru. Sulit membicarakan pendidikan sebagai prioritas bangsa jika kehidupan sebagian pendidik masih belum mendapatkan kepastian dan penghargaan yang layak.

Guru diminta menjadi teladan, pembelajar sepanjang hayat, penggerak perubahan, sekaligus pelaksana berbagai kebijakan. Tuntutan tersebut memang bagian dari profesionalitas. Namun, profesionalitas juga harus berjalan beriringan dengan penghargaan terhadap profesi.

Kesejahteraan guru bukan sekadar persoalan besaran pendapatan. Hal ini menyangkut kepastian status, perlindungan dalam menjalankan profesi, kesempatan berkembang, beban kerja yang manusiawi, serta penghargaan yang sepadan terhadap tanggung jawabnya.

Guru yang sejahtera bukan berarti guru yang dimanjakan. Guru yang sejahtera adalah guru yang dapat menjalankan tugas profesionalnya dengan tenang dan bermartabat.

Jika pendidikan benar-benar menjadi prioritas negara ini, guru harus ditempatkan sebagai investasi, bukan sekadar komponen biaya pendidikan. Negara membutuhkan guru yang fokus mengajar, bukan guru yang terus-menerus cemas memikirkan keberlangsungan hidupnya.

Membangun pendidikan yang bermutu tidak cukup hanya dengan menambah kurikulum, teknologi, atau berbagai program baru. Bangsa yang ingin memiliki pendidikan kuat harus terlebih dahulu memastikan guru-gurunya memiliki kehidupan yang layak dan masa depan yang jelas.

Sebab, pada akhirnya, teknologi tidak berdiri sendiri di ruang kelas. Kurikulum tidak mengajar dengan sendirinya. Program pemerintah tidak mendidik anak secara otomatis. Di balik semuanya ada manusia bernama guru.

Jangan sampai kita berbicara terlalu jauh tentang sekolah masa depan, tetapi lupa memastikan kehidupan guru hari ini. Jangan sampai kita menuntut guru mencetak generasi unggul, sementara negara belum sepenuhnya memberikan rasa aman dan penghargaan yang layak kepada mereka yang bekerja setiap hari untuk mewujudkannya.

Jangan sampai pendidikan disebut sebagai prioritas bangsa hanya dalam pidato, tetapi belum sepenuhnya tercermin dalam keberpihakan nyata terhadap guru.

Karena itu, kemerdekaan pendidikan dan kesejahteraan guru seharusnya menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pendidikan tidak akan benar-benar merdeka jika guru sebagai aktor utamanya masih terbebani oleh ketidakpastian dan persoalan kesejahteraan.

Kita membutuhkan anak-anak yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter: jujur, disiplin, bertanggung jawab, mampu bersosialisasi, toleran, dan berani. Karakter tersebut tidak lahir dari banyaknya mata pelajaran, melainkan tumbuh melalui pengalaman pendidikan yang konsisten.

Oleh karena itu, semakin banyak muatan pembelajaran tidak secara otomatis membuat kualitas pendidikan semakin baik. Teknologi yang semakin canggih juga tidak otomatis membuat pembelajaran semakin bermakna.

Pertanyaan mendasarnya tetap sama: manusia seperti apa yang hendak kita lahirkan melalui pendidikan?

Pendidikan juga harus menjadi ruang untuk berpikir merdeka. Bangsa yang demokratis membutuhkan warga yang mampu bertanya dan berpikir kritis. Kritik tidak semestinya selalu dipahami sebagai perlawanan. Guru yang mempertanyakan kebijakan bukan berarti menolak pemerintah.

Kritik yang disampaikan dengan argumentasi dan tanggung jawab justru dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki kualitas pendidikan.

Sulit mengajarkan anak untuk berpikir kritis jika lingkungan di sekitarnya tidak memberikan ruang yang sehat bagi perbedaan pendapat. Karena itu, kebijakan pendidikan perlu berpijak pada kebutuhan nyata sekolah, melibatkan suara guru, memperhatikan kondisi murid yang beragam, dan memiliki kesinambungan.

Pendidikan bukan proyek jangka pendek. Dampaknya baru terlihat setelah bertahun-tahun, bahkan lintas generasi.

Pemerataan juga harus menjadi perhatian. Jangan sampai perbedaan fasilitas, status sekolah, dan kemampuan ekonomi keluarga menciptakan kasta baru dalam pendidikan. Keragaman model pendidikan semestinya memperluas kesempatan, bukan memperlebar jarak.

Sebagai guru, saya tentu tidak mampu mengubah sistem secara keseluruhan. Namun, saya masih memiliki ruang untuk menjaga kelas sebagai tempat tumbuhnya manusia merdeka melalui cara sederhana: anak yang berani bertanya, mampu berpikir, bersedia mendengarkan, berani mengakui kesalahan, dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Dari ruang kelas yang sederhana, kemerdekaan itu dapat terus diperjuangkan.

Maka, peringatan 17 Agustus semestinya tidak berhenti sebagai perayaan. Momentum tersebut harus menjadi ruang untuk melakukan refleksi dan renungan.

Kita memang telah merdeka sebagai negara. Namun, apakah setiap anak sudah merdeka untuk mendapatkan hak atas pendidikan yang bermutu? Apakah para guru sudah merdeka untuk mengajar dengan tenang, bermartabat, dan sejahtera? Apakah pendidikan benar-benar ditempatkan sebagai prioritas pembangunan bangsa, bukan sekadar ruang bergantinya program dan kebijakan?

Jika pendidikan belum sepenuhnya mampu memerdekakan murid dan belum sepenuhnya menyejahterakan guru, kemerdekaan seperti apa yang sesungguhnya sedang kita rayakan setiap 17 Agustus?


*|| Guru SDN 1 Curugsewu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, dan Penulis Buku Esok Kita Cerita Hari Ini: Catatan Refleksi Pengalaman Belajar


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google  News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com 

Download sekarang!

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Exchange contextual links automatically and build real site authority.