Petani yang Tak Sempat Berlibur: Ketika Harga Panen Belum Mengubah Nasib

  • Bagikan
Seorang petani menghitung hasil dan biaya produksi di tengah lahan pertanian. Di saat harga komoditas tingkat petani masih menghadapi berbagai tantangan, kesempatan menikmati waktu bersama keluarga, termasuk berlibur ke kota, masih menjadi impian bagi sebagian petani. (foto: Ilustrasi)

|| Penulis: Sapa Redaksi*

Ada satu pemandangan yang jarang dibicarakan dalam cerita pembangunan: seorang petani yang sepanjang hidupnya bekerja untuk menyediakan pangan, tetapi tidak memiliki banyak kesempatan menikmati hasil dari pekerjaannya sendiri.

Bagi sebagian warga kota, liburan mungkin sekadar mencari suasana baru. Pergi ke pusat kota, mengunjungi tempat wisata, makan bersama keluarga, atau mengajak anak-anak melihat dunia di luar kampung adalah bagian kecil dari kehidupan.

Namun bagi banyak petani, perjalanan semacam itu masih menjadi sesuatu yang jauh.

Bukan karena mereka tidak memiliki keinginan. Bukan karena mereka tidak membutuhkan hiburan. Tetapi karena kehidupan ekonomi mereka selalu berada dalam posisi menunggu: menunggu musim panen, menunggu harga membaik, menunggu biaya produksi turun, dan menunggu keuntungan yang sering kali tidak pernah benar-benar datang.

Petani sering kali hanya memiliki dua pilihan: kembali menanam atau kembali berutang.

Kerja Keras yang Tidak Selalu Berujung Kesejahteraan

Data harga komoditas di tingkat petani yang dirilis Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) memperlihatkan bagaimana nilai hasil pertanian sangat beragam. Pada 18 Agustus 2026, harga gabah tingkat petani tercatat Rp8.000 per kilogram, jagung Rp5.500 per kilogram, bawang merah Rp19.000 per kilogram, dan kelapa sawit Rp3.910 per kilogram.

Sementara sejumlah komoditas perkebunan memiliki nilai lebih tinggi. Kopi robusta tercatat Rp87.000 per kilogram, kopi spesial Rp125.000 per kilogram, lada putih Rp145.500 per kilogram, serta kakao Rp54.500 per kilogram. Untuk tembakau, harga berbeda berdasarkan jenis, antara lain tembakau Burley Rp74.000 per kilogram, Kasturi Rp90.000 per kilogram, Boyolali Rp85.000 per kilogram, dan tembakau Madura Rp54.300 per kilogram.

Namun angka harga tersebut tidak otomatis menggambarkan kesejahteraan petani.

Sebab harga jual bukanlah pendapatan bersih.

Di balik setiap kilogram hasil panen terdapat biaya pupuk, bibit, pestisida, sewa lahan, tenaga kerja, bahan bakar, hingga risiko gagal panen akibat cuaca.

Petani menjual hasil produksi, tetapi harus membeli hampir seluruh kebutuhan produksinya dengan harga pasar.

Di titik inilah ketimpangan itu muncul.

Ketika harga pangan naik di pasar, masyarakat sering menyalahkan petani. Padahal kenaikan harga di tingkat konsumen tidak selalu berbanding lurus dengan keuntungan yang diterima petani.

Rantai distribusi yang panjang membuat nilai tambah lebih banyak berhenti di tengah perjalanan, sementara petani sebagai produsen utama sering berada di posisi paling lemah.

Petani dan Kemewahan Bernama Waktu Luang

Liburan bagi petani sebenarnya bukan tentang kemewahan.

Seorang petani tidak selalu bermimpi pergi jauh. Bisa jadi cukup membawa anaknya melihat kota, makan bersama keluarga di tempat sederhana, atau menikmati satu hari tanpa memikirkan sawah.

Tetapi persoalannya, kapan mereka memiliki waktu dan biaya?

Saat petani selesai panen, mereka tidak otomatis beristirahat. Mereka harus mempersiapkan musim tanam berikutnya.

Saat memperoleh uang hasil panen, uang itu sudah memiliki tujuan: membeli pupuk, membayar pinjaman, memperbaiki alat pertanian, atau memenuhi kebutuhan pendidikan anak.

Bagi sebagian petani, uang hasil panen bukan simbol keberhasilan. Ia hanya menjadi napas pendek sebelum kembali menghadapi musim berikutnya.

Negara Tidak Boleh Hanya Menghitung Produksi

Selama ini keberhasilan pertanian sering diukur dari angka produksi.

Berapa ton gabah yang dihasilkan. Berapa luas lahan yang ditanami. Berapa besar stok pangan nasional.

Semua itu penting.

Namun ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah petani yang menghasilkan pangan tersebut hidup lebih sejahtera?

Sebab ketahanan pangan tanpa kesejahteraan petani adalah paradoks.

Negara bisa memiliki cadangan pangan yang besar, tetapi jika petani tetap kesulitan membiayai hidupnya, maka ada persoalan serius dalam sistem pertanian.

Petani tidak hanya membutuhkan program produksi. Mereka membutuhkan perlindungan harga, akses pasar yang adil, penguatan koperasi, rantai distribusi yang lebih pendek, serta kebijakan yang membuat posisi tawar mereka lebih kuat.

Jangan Jadikan Petani Sekadar Pahlawan yang Dipuji

Ada kecenderungan romantisasi terhadap petani.

Mereka disebut pahlawan pangan. Mereka dipuji karena bekerja keras. Mereka dihormati ketika panen raya tiba.

Namun penghormatan tidak cukup hanya dengan kata-kata.

Petani tidak membutuhkan sekadar penghargaan simbolik. Mereka membutuhkan sistem ekonomi yang membuat kerja kerasnya menghasilkan kehidupan yang layak.

Sebab pahlawan juga manusia.

Mereka memiliki keluarga. Mereka memiliki kebutuhan. Mereka memiliki impian sederhana.

Termasuk impian untuk sesekali meninggalkan ladang, pergi ke kota, dan menikmati hidup tanpa rasa bersalah.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan pertanian bukan hanya berapa banyak pangan yang berhasil diproduksi.

Ukuran paling jujur adalah: apakah orang yang menanam pangan itu bisa hidup bahagia dari hasil tanamannya sendiri?

Jika petani masih harus menghitung ulang biaya ketika ingin berlibur bersama keluarga, mungkin ada yang perlu diperbaiki dari cara kita menghargai mereka.

Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya.

Tetapi bangsa yang mampu memastikan para pemberi makan itu juga hidup dengan layak.


||* Tim Kreator HarianJatim.Com


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google  News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com  

Download sekarang!

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90