KMNU UNAIR Dorong Revitalisasi Aswaja An-Nahdliyah di Tengah Tantangan Generasi Z

  • Bagikan
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Airlangga (Dok. Ist)

Surabaya – harianjatim.com Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Airlangga (KMNU UNAIR) menjadikan pelaksanaan Daurah X Harlah KMNU UNAIR 2026 sebagai ajang untuk kembali menguatkan pembahasan mengenai kesinambungan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah di lingkungan perguruan tinggi. Hal tersebut dinilai semakin penting seiring perubahan karakter dan pola kehidupan generasi mahasiswa.

Mengangkat tema “Membangkitkan Gairah Ke-NU-an” atau Ghirah Nahdliyah, kegiatan tersebut digelar di Ruang Utama Masjid Ulul Albab, Kampus A Universitas Airlangga, Surabaya, pada Sabtu (12/9) malam.

Sejumlah elemen turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya perwakilan PCNU Surabaya, ISNU Airlangga, PMII, serta sejumlah unsur lainnya. Salah satu pendiri KMNU UNAIR, Bustomi, S.Hub.Int., M.IP., juga hadir dalam kegiatan tersebut.

Selain menjadi bagian dari peringatan Harlah KMNU UNAIR, Daurah tersebut juga dimanfaatkan sebagai forum silaturahmi sekaligus ruang refleksi untuk membahas tantangan kaderisasi dan upaya memperkuat pemahaman Aswaja An-Nahdliyah di lingkungan kampus.

Materi utama disampaikan oleh Dr. M. Atoillah Isfandiari, dr., M.Kes., yang lebih dikenal dengan sapaan Dokter Atok. Ia diketahui menjabat sebagai Wakil Dekan II Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR.

Dalam pemaparannya, Dokter Atok menyoroti adanya persoalan dalam pola hubungan antara generasi dosen dengan mahasiswa. Menurutnya, mayoritas mahasiswa saat ini berasal dari Generasi Z yang memiliki latar sosial, perkembangan teknologi, serta lingkungan budaya yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

“Sekarang gap antar generasi itu luar biasa. Antara kami yang dosen dan mahasiswa yang mayoritas adalah Gen Z,” tuturnya.

Menurut Dokter Atok, kondisi tersebut membutuhkan langkah pembaruan dan penguatan kembali. Nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah serta semangat ke-NU-an di perguruan tinggi perlu dikemas melalui pendekatan yang sesuai dengan karakter mahasiswa masa kini.

“Saya mau bahas lebih ke semangat revitalisasi,” katanya.

Urgensi tersebut semakin terlihat karena Universitas Airlangga memiliki sekitar 25.000 mahasiswa program sarjana. Besarnya jumlah mahasiswa menjadikan kampus sebagai salah satu ruang penting untuk kaderisasi sekaligus penanaman nilai keislaman dan kebangsaan kepada generasi muda.

Atas dasar itu, keberadaan KMNU UNAIR diharapkan tidak berhenti sebagai organisasi tempat berkumpulnya mahasiswa Nahdliyin. KMNU juga diharapkan mampu menjalankan fungsi strategis sebagai agent of change bagi NU di lingkungan Universitas Airlangga.

Dokter Atok juga memberikan apresiasi terhadap semakin terlihatnya eksistensi KMNU di Masjid Ulul Albab. Masjid yang berada di lingkungan Kampus A UNAIR tersebut menjadi tempat pelaksanaan Daurah X Harlah KMNU UNAIR 2026.

“Masjid Ulul Albab sekarang berarti sudah terwarnai KMNU. Ini bagus,” ujarnya.

Ia kemudian membandingkan perkembangan tersebut dengan pengalaman dirinya ketika masih berstatus mahasiswa. Menurutnya, situasi yang ada saat ini cukup menarik jika dibandingkan dengan kondisi pada masa kuliahnya.

“Saya sejak kuliah 1995 tidak pernah masuk radar. Ini menarik,” katanya.

Menurut Dokter Atok, keberadaan KMNU di Masjid Ulul Albab dapat terus dikembangkan menjadi ruang pembinaan mahasiswa yang lebih luas. Selain itu, keberadaan organisasi tersebut juga diharapkan mampu memperkuat tradisi keilmuan dan pengembangan Aswaja An-Nahdliyah di lingkungan akademik.

Dalam kesempatan tersebut, Dokter Atok turut mengingatkan pentingnya generasi muda Nahdliyin tetap memiliki keterhubungan dengan tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama pendiri Nahdlatul Ulama.

Ia menekankan bahwa keberadaan warga NU saat ini tidak dapat dilepaskan dari mata rantai keilmuan yang diwariskan para ulama, termasuk KH Hasyim Asy’ari sebagai salah satu muassis Nahdlatul Ulama.

“Kita semua adalah santrinya Mbah Hasyim. Dan mudah-mudahan mendapatkan barokah Masyayikh,” ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikannya dengan penuh kerendahan hati. Dokter Atok mengaku dirinya sendiri masih membutuhkan nasihat dan bimbingan dari para guru sehingga merasa kurang pantas apabila justru harus memberikan mauidoh hasanah.

“Saya agak sungkan karena pada dasarnya saya sendiri butuh dapat mau’idoh hasanah. Ini kok malah ngasi,” katanya.

Ia juga menyampaikan penghormatan kepada para guru yang hadir dalam kegiatan Daurah tersebut.

“Kapasitas ilmu saya biasa. Maka izinkan saya di bawah. Ga berani duduk di atas. Kurang adab nantinya pada para guru saya yang hadir,” ujar Dokter Atok.

Sementara itu, Dewan Pembina KMNU UNAIR, Ahmad Syauqi, S.Hum., M.Si., juga menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga hubungan dengan para muassis NU. Menurutnya, berbagai jabatan maupun posisi yang diemban seseorang dalam lembaga-lembaga NU semestinya dipahami sebagai bagian dari pengabdian.

“Kita semua apapun latar jabatan kita di semua lembaga NU adalah “khadim” Mbah Hasyim Asy’ari dan muassis NU,” kata Ahmad Syauqi.

Ia menilai perspektif tersebut penting untuk menjaga agar posisi dalam struktur organisasi NU tidak sekadar dipandang sebagai jabatan atau kedudukan. Setiap amanah yang diberikan harus diposisikan sebagai bentuk pengabdian untuk melanjutkan perjuangan sekaligus menjaga nilai-nilai yang telah diwariskan para pendiri NU.

Dengan demikian, Daurah X Harlah KMNU UNAIR 2026 tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan seremonial dalam rangka memperingati hari lahir organisasi. Forum tersebut juga diharapkan menjadi ruang pertemuan antara pengalaman generasi sebelumnya dengan karakter, gagasan, dan semangat mahasiswa generasi baru.

Tantangan KMNU UNAIR ke depan adalah menjaga kesinambungan tradisi Aswaja An-Nahdliyah sekaligus menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam bentuk yang tetap relevan dengan kehidupan mahasiswa di tengah perubahan lingkungan akademik maupun sosial.

Dokter Atok berharap kegiatan yang dipusatkan di Masjid Ulul Albab itu dapat menjadi langkah awal bagi gerakan revitalisasi Aswaja An-Nahdliyah yang dilakukan secara berkesinambungan di Universitas Airlangga.

“Semoga dengan Daurah KMNU dan Harlah di Masjid Ulul Albab jadi tonggak semangat revitalisasi Aswaja An-Nahdliyah ke depannya di UNAIR,” pungkasnya.

Daurah X Harlah KMNU UNAIR 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Harlah ke-11 tersebut turut menempatkan persoalan regenerasi sebagai salah satu isu utama dalam membicarakan masa depan Aswaja An-Nahdliyah di lingkungan kampus.

Di tengah semakin kuatnya perbedaan karakter antargenerasi, KMNU UNAIR memandang dialog, kaderisasi, dan kesinambungan tradisi sebagai bagian penting yang perlu terus dibangun. Upaya tersebut diperlukan agar nilai-nilai yang diwariskan para muassis NU tetap dapat hidup dan berkembang di tengah generasi muda.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90