Probolinggo, harianjatim.com – Komunitas Pemuda Nusantara Peduli Lingkungan Hijau (PENA HIJAU) kembali menunjukkan komitmen nyata dalam menjaga kelestarian alam melalui aksi river clean up (bersih sungai). Kegiatan clean up ini dilaksanakan di aliran Sungai Desa Pandean, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, pada Selasa (15/09/2026). Aksi peduli lingkungan ini semakin istimewa karena mendapat dukungan penuh serta diikuti langsung oleh jajaran Pemerintah Desa Pandean beserta sejumlah unsur komunitas lokal.
Kepala Desa Pandean, Fathol Wari, menyampaikan apresiasi serta rasa bangganya terhadap kepedulian para pemuda yang tergabung dalam PENA HIJAU. Menurutnya, inisiatif ini menjadi pengingat penting di tengah mulai memudarnya kepedulian sebagian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan sekitar.
“Alhamdulillah saya sangat senang sekali, karena ada pemuda yang sangat peduli dengan lingkungan, karena kenapa, hari ini kesadaran masyarakat sudah mulai hilang terkait dengan lingkungan,” jelas Fathol Wari.
Ia juga mengingatkan kembali esensi hubungan harmonis antara manusia dan alam. “Sebenarnya lingkungan ini adalah sahabat kita, yang mana alam semesta ini memberikan nuansa kepada kita dalam kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.
Sebagai bentuk tindak lanjut, Fathol Wari berpesan kepada seluruh warganya agar mulai membiasakan diri mengelola sampah dengan benar. “Saya berharap kepada warga Desa Pandean untuk membuang sampah pada tempatnya, sehingga alam kita ini bisa kita rawat dan bermanfaat untuk anak cucu kita,” harapnya.
Sementara itu, Founder PENA HIJAU, Taufiqur Rohim, mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan yang melibatkan kolaborasi lintas elemen ini. Ia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Desa Pandean atas sambutan, izin, serta keikutsertaan aktif perangkat desa di lapangan.
“Ini merupakan kegiatan rutin komunitas kami, dan Alhamdulillah pada kegiatan river clean up kali ini, kami didukung oleh Pemerintah Desa Pandean, Bapak Kepala Desa beserta seluruh aparatur pemerintah desa, yang sudah memberikan izin kepada kami dalam melakukan clean up, tidak hanya itu beliau-beliau juga turut ikut serta bersama kami dalam melakukan clean up,” ujar Taufiqur Rohim.
Taufiq juga menyoroti sinergi yang kian meluas dengan hadirnya berbagai komunitas lain yang turut bergabung dalam beberapa pekan terakhir. “Alhamdulillah dalam beberapa pekan terakhir ini, ada beberapa komunitas yang berkenan untuk join dengan kita dalam river clean up, kami sampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya,” tambahnya.
Melalui gerakan konsisten ini, PENA HIJAU optimis bahwa pesan moral kepedulian lingkungan dapat tersampaikan secara luas kepada masyarakat luas, khususnya dalam menghentikan kebiasaan buruk membuang limbah ke badan air.
“Kami tidak putus harap, karena kami yakin, dengan kegiatan kami ini, pastinya nanti bisa memberikan kesadaran kepada masyarakat untuk bisa menjaga lingkungan, terutama membuang sampah pada tempatnya, dan tidak menjadikan sungai sebagai tempat sampah,” tegasnya.

Menanggapi pertanyaan mengenai batas waktu pelaksanaan gerakan peduli sungai ini, Taufiq menegaskan bahwa aksi kolektif tersebut akan terus berjalan hingga visi utama tercapai sepenuhnya.
“Kalau ditanya sampai kapan kita akan melakukan bersih-bersih sungai? Kami akan membersihkan sungai selama sampah masih mencemari aliran air kita. Namun, target utama kami bukan sekadar mengangkat sampah setiap minggu, melainkan menginspirasi dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan. Selesainya tugas kami adalah ketika menjaga sungai sudah menjadi kebiasaan sehari-hari setiap warga, dan sadar bahwa sungai bukanlah tempat sampah,” tukas salah satu mahasiswa S2 lingkungan Universitas Brawijaya, itu.
Aksi ini ditutup dengan pembersihan tumpukan sampah di sepanjang aliran sungai, dengan harapan menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa merawat sungai adalah wujud nyata menjaga masa depan peradaban. (rd)


