Mojokerto — harianjatim.com Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Jawa Timur menetapkan tujuh Presidium KAHMI Jatim untuk masa kepemimpinan 2026-2031. Penetapan tersebut berlangsung dalam forum Muswil VI KAHMI Jatim yang digelar di Trawas, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (26/9).
Ketujuh Presidium KAHMI Jatim terpilih ditentukan berdasarkan perolehan suara terbanyak dalam forum Muswil. Hasil tersebut menjadi salah satu keputusan utama Muswil VI KAHMI Jatim yang mengusung tema “Reposisi Paradigma KAHMI Jatim Menuju Gerbang Baru Nusantara”.
Dalam proses pemilihannya, Muswil VI KAHMI Jatim terlebih dahulu menerapkan mekanisme penjaringan bakal calon Presidium melalui sistem zonasi. Jawa Timur dibagi menjadi tujuh zona untuk memberikan ruang kepada Majelis Daerah (MD) KAHMI dalam melakukan penjaringan dan musyawarah sebelum nama bakal calon dibawa ke forum Muswil.
Dari hasil pemungutan suara, Lutfi J. Kurniawan menjadi calon dengan perolehan suara tertinggi, yakni 30 suara. Posisi kedua ditempati Aan Eko W. dengan 29 suara.
Selanjutnya, Ahmad Riyadh dan Nur Muhyidin sama-sama memperoleh 28 suara. Kemudian Agus Mahfudz Fauzi meraih 27 suara, disusul Robbah F. dengan 24 suara, serta H. Nyak Din yang memperoleh 21 suara.
Ketujuh nama tersebut selanjutnya menjadi bagian dari jajaran Presidium KAHMI Jatim periode 2026-2031. Hasil Muswil VI ini sekaligus membuka tahapan baru bagi KAHMI Jawa Timur untuk menerjemahkan tema Gerbang Baru Nusantara ke dalam program organisasi dan kerja nyata.
Ketua Organizing Committee (OC) Muswil VI KAHMI Jatim, Ulil Hartono, menyebut terpilihnya tujuh Presidium menjadi salah satu capaian penting dalam keseluruhan rangkaian Muswil VI KAHMI Jatim.
Menurut Ulil, proses menuju Muswil VI KAHMI Jatim telah berlangsung melalui sejumlah tahapan. Rangkaian tersebut mencakup lomba logo, karya tulis ilmiah, sosialisasi Muswil, penjaringan bakal calon Presidium berbasis zonasi, hingga pelaksanaan forum Muswil dan pemilihan Presidium.
Ulil menilai tujuh Presidium KAHMI Jatim yang terpilih memiliki latar belakang profesi yang beragam. Keragaman tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas organisasi dalam merespons dinamika KAHMI Jawa Timur sekaligus berbagai persoalan pembangunan dan kebangsaan.
“Jawa Timur berpotensi menjadi barometer atas contoh baik pelaksanaan Muswil yang inovatif berbasis zonasi yang tetap berpegang teguh pada AD/ART organisasi,” kata Ulil.
Ia menjelaskan, penerapan sistem zonasi dirancang untuk memperluas ruang partisipasi Majelis Daerah KAHMI dalam proses penjaringan bakal calon Presidium. Melalui mekanisme tersebut, setiap zona memiliki kesempatan untuk melakukan pembahasan dan musyawarah sebelum mengusulkan nama calon.
Meski penjaringan dilakukan melalui sistem zonasi, keputusan akhir tetap berada di forum Muswil VI KAHMI Jatim sebagai forum tertinggi organisasi di tingkat wilayah. Dengan demikian, sistem zonasi menjadi bagian dari proses penjaringan, sedangkan penetapan Presidium dilakukan melalui mekanisme pemilihan dalam Muswil.
Ulil juga mengakui bahwa penerapan sistem zonasi dalam pemilihan Presidium KAHMI Jatim masih memiliki sejumlah kekurangan. Namun, ia menilai setiap inovasi dalam tata kelola organisasi membutuhkan proses evaluasi dan penyempurnaan, terutama ketika mekanisme tersebut baru pertama kali diterapkan.
“Model pemilihan Presidium konvensional yang ‘itu-itu saja’ dan menghasilkan komposisi profesi cenderung homogen, dikreasikan melalui sistem zonasi yang memberi ruang lebih kepada Majelis Daerah untuk bermusyawarah lebih dulu,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Steering Committee (SC) Muswil VI KAHMI Jatim, Mufid Dahlan, menjelaskan bahwa tema Reposisi Paradigma KAHMI Jatim Menuju Gerbang Baru Nusantara tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa paradigma KAHMI sebelumnya merupakan sesuatu yang keliru.
“Bukan salah paradigma, tetapi lebih menajamkan peran strategis KAHMI Jawa Timur,” kata Mufid.
Mufid mengatakan KAHMI Jawa Timur memiliki modal sumber daya manusia yang besar karena para alumninya berasal dari berbagai latar belakang profesi. Potensi tersebut dinilai dapat dioptimalkan untuk memperkuat kontribusi KAHMI dalam menghadapi perubahan dan tantangan pembangunan nasional.
Sejumlah sektor strategis yang membutuhkan kontribusi tersebut antara lain industrialisasi, teknologi, transportasi, serta transformasi sosial. KAHMI Jatim diharapkan dapat mengambil bagian melalui kapasitas dan jejaring alumni yang tersebar di berbagai bidang.
“KAHMI dengan potensi SDM berbagai profesi harus dapat mengambil bagian dalam proses Gerbang Baru Nusantara,” ujarnya.
Selain berkontribusi terhadap agenda nasional, Mufid menyebut KAHMI Jawa Timur perlu mengambil peran strategis dalam mengawal pembangunan di daerah. Salah satunya dengan memberikan dukungan dan kontribusi terhadap berbagai program pembangunan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Dalam struktur kepemimpinan KAHMI, Mufid menegaskan bahwa Presidium bukanlah sistem kepemimpinan presidensial maupun model ketua umum. Kepemimpinan KAHMI menggunakan prinsip kolektif-kolegial, dengan sejumlah Presidium yang menjalankan tanggung jawab organisasi secara bersama.
“Dengan perbedaan latar belakang dan profesi Presidium yang terpilih akan menjadi kekuatan dan sinergi yang luar biasa untuk menjawab kompleksitas dan heterogenitas masalah kebangsaan,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, posisi Koordinator Presidium KAHMI Jatim akan dilakukan secara bergantian. Mekanisme tersebut memberikan kesempatan kepada seluruh Presidium untuk menjalankan fungsi koordinasi organisasi secara bergiliran selama periode kepemimpinan 2026-2031.
Mufid menilai kepemimpinan KAHMI Jatim periode baru membutuhkan sejumlah modal penting, terutama integritas, kemampuan komunikasi, kearifan, serta kebijaksanaan dalam menjalankan roda organisasi.
Setelah Muswil VI KAHMI Jatim menghasilkan tujuh Presidium, agenda berikutnya adalah menyusun struktur kepengurusan MW KAHMI Jawa Timur periode 2026-2031. Penyusunan kepengurusan tersebut diharapkan melibatkan berbagai unsur dan potensi alumni KAHMI di Jawa Timur.
Selain pembentukan kepengurusan, KAHMI Jatim juga menghadapi pekerjaan untuk melakukan inventarisasi potensi sumber daya manusia alumni yang tersebar di berbagai sektor profesi. Data dan potensi tersebut selanjutnya dapat diarahkan untuk memperkuat kontribusi KAHMI terhadap pembangunan daerah maupun nasional.
Penguatan terhadap proses perkaderan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) juga menjadi salah satu agenda penting bagi KAHMI Jawa Timur. Hubungan antara alumni dan proses perkaderan HMI diharapkan terus diperkuat sebagai bagian dari keberlanjutan kontribusi organisasi.
Muswil VI KAHMI Jatim sendiri berlangsung dengan mengacu pada AD/ART organisasi. Forum tersebut turut dihadiri peninjau dari Sekretaris Jenderal Majelis Nasional (MN) KAHMI, Syamsul Qomar.
Dengan ditetapkannya tujuh Presidium KAHMI Jatim periode 2026-2031, hasil Muswil VI KAHMI Jatim di Trawas, Mojokerto, kini memasuki tahap berikutnya. Tantangan kepemimpinan baru adalah menerjemahkan tema Reposisi Paradigma KAHMI Jatim Menuju Gerbang Baru Nusantara menjadi program organisasi, penguatan jejaring alumni, dukungan terhadap perkaderan HMI, serta kerja nyata KAHMI Jawa Timur selama lima tahun ke depan.


