Membangun Kampus yang Islami: Upaya Mengintegrasikan Nilai-Nilai Keislaman dalam Pendidikan Tinggi

  • Bagikan
Nur Hasanah Nurdin

Oleh: Nur Hasanah Nurdin*

Pendidikan tinggi merupakan institusi strategis yang memegang peranan vital dalam menentukan arah masa depan sebuah bangsa. Di tangan universitaslah, calon pemimpin, teknokrat, ilmuwan, dan praktisi ditempa. Namun, di tengah gemuruh arus globalisasi yang membawa nilai-nilai materialisme dan sekularisme, dunia pendidikan kita seringkali terjebak dalam pragmatisme yang sempit, hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan pasar kerja. Di sinilah urgensi membangun kampus yang Islami muncul sebagai diskursus penting. Membangun kampus yang Islami bukan sekadar soal estetika arsitektur atau labelitas, melainkan sebuah upaya sistematis untuk mengintegrasikan nilai-nilai keislaman ke dalam seluruh ekosistem akademik.

Filosofi Integrasi Ilmu: Menghapus Dikotomi

Persoalan mendasar dalam pendidikan tinggi modern adalah adanya dikotomi atau pemisahan yang tajam antara ilmu agama dan ilmu umum. Ilmu pengetahuan seringkali dianggap netral dan bebas nilai, sementara agama ditempatkan pada ruang privat yang terisolasi. Upaya membangun kampus Islami harus dimulai dengan meruntuhkan tembok pemisah ini melalui konsep integrasi-interkoneksi ilmu.

Dalam pandangan Islam, semua ilmu bersumber dari satu hakikat, yakni Allah SWT. Baik ayat-ayat qauliyah (wahyu yang tertulis dalam Al-Qur’an) maupun ayat-ayat kauniyah (fenomena alam semesta) adalah satu kesatuan yang saling menguatkan. Ketika seorang mahasiswa kedokteran mempelajari anatomi tubuh manusia, ia tidak hanya belajar tentang sistem biologis, tetapi juga diajak untuk mengagumi kebesaran Sang Pencipta melalui kompleksitas ciptaan-Nya. Inilah esensi integrasi: menjadikan aktivitas ilmiah sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada Tuhan. Tanpa landasan ini, kampus hanya akan melahirkan robot-robot pintar yang kering dari nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas.

Integrasi Kurikulum dan Pendidikan Karakter

Implementasi nyata dari kampus yang Islami terletak pada kurikulum. Nilai-nilai Islam tidak boleh hanya “dititipkan” dalam satu atau dua mata kuliah agama yang seringkali dianggap sebagai pelengkap formalitas. Sebaliknya, nilai-nilai tersebut harus menyusup ke dalam silabus mata kuliah inti. Misalnya, dalam fakultas ekonomi, nilai-nilai keadilan sosial, kejujuran, dan larangan eksploitasi harus menjadi ruh dalam pembahasan teori manajemen atau keuangan.

Lebih jauh lagi, integrasi ini harus mewujud dalam bentuk pendidikan karakter (akhlaqul karimah). Kampus harus menjadi laboratorium karakter di mana nilai-nilai seperti kejujuran intelektual, tanggung jawab, dan kedisiplinan dipraktikkan secara nyata. Fenomena seperti plagiarisme, kecurangan akademik, hingga perilaku koruptif di lingkungan kampus adalah antitesis dari nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, sistem penilaian di kampus Islami idealnya tidak hanya bertumpu pada indeks prestasi kumulatif (IPK) yang bersifat kognitif, tetapi juga mempertimbangkan aspek integritas dan kontribusi sosial mahasiswa.

Menciptakan Budaya Kampus yang Humanis dan Inklusif.

Membangun kampus yang Islami juga berarti menciptakan lingkungan sosial yang mencerminkan wajah Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin, rahmat bagi semesta alam. Hal ini mencakup hubungan antara dosen dan mahasiswa yang didasarkan pada rasa saling menghormati (ta’dhim), bukan hubungan transaksional. Dosen bukan sekadar pentransfer informasi, melainkan seorang murabbi (pendidik) yang memberikan teladan moral.

Selain itu, inklusivitas adalah kunci. Islam mengajarkan persaudaraan manusia (ukhuwah basyariyah). Kampus yang Islami harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang suku, ras, atau bahkan agama yang berbeda. Keislaman sebuah kampus diukur dari sejauh mana kampus tersebut mampu menegakkan keadilan, membela yang lemah, dan memberikan solusi atas problematika masyarakat di sekitarnya. Budaya peduli lingkungan, gerakan hemat energi, serta transparansi tata kelola administrasi adalah indikator nyata dari penerapan nilai Islam yang universal.

Tantangan dalam Era Disrupsi

Tentu saja, jalan menuju transformasi kampus Islami tidaklah mulus. Tantangan pertama adalah tantangan internal, yakni kesiapan sumber daya manusia. Tidak semua pengajar memiliki kemampuan atau pemahaman yang cukup untuk melakukan integrasi ilmu. Banyak yang masih terjebak dalam spesialisasi sempit tanpa mampu melihat kaitan bidangnya dengan perspektif keislaman.

Tantangan kedua bersifat eksternal, yakni arus globalisasi dan standar internasional. Di tengah persaingan peringkat universitas dunia (world university ranking), banyak kampus yang terpaksa memfokuskan energi mereka pada pemenuhan indikator administratif yang bersifat kuantitatif, sehingga seringkali mengabaikan aspek pembangunan karakter yang lebih kualitatif dan esensial. Selain itu, budaya pop yang hedonis di media sosial seringkali menjadi pengaruh yang lebih kuat bagi mahasiswa dibandingkan nilai-nilai yang diajarkan di ruang kelas.

Strategi dan Langkah Kedepan

Untuk menghadapi tantangan tersebut, diperlukan komitmen kuat dari pimpinan universitas. Pertama, harus ada kebijakan strategis yang mendukung riset-riset lintas disiplin antara sains dan agama. Kedua, pelatihan bagi para dosen untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam metodologi integrasi ilmu perlu digalakkan. Ketiga, pemanfaatan teknologi informasi harus diarahkan untuk menyebarkan nilai-nilai positif dan konten keislaman yang mencerahkan.

Kampus Islami juga harus memperkuat peran masjid kampus. Masjid tidak boleh hanya menjadi tempat ritual salat, tetapi harus bertransformasi menjadi pusat peradaban, tempat diskusi intelektual, serta pusat pemberdayaan ekonomi dan sosial mahasiswa. Dengan menjadikan masjid sebagai jantung kampus, nilai-nilai spiritualitas akan senantiasa mengalir ke setiap urat nadi kegiatan mahasiswa.

Kesimpulan

Membangun kampus yang Islami adalah sebuah perjalanan panjang dan berkelanjutan (on-going process). Ia adalah sebuah cita-cita untuk mengembalikan khittah pendidikan tinggi sebagai tempat penyempurnaan akal dan budi pekerti. Integrasi nilai-nilai keislaman dalam kurikulum, budaya akademik, dan lingkungan sosial bukanlah sebuah langkah mundur menuju masa lalu, melainkan sebuah lompatan besar untuk menjawab krisis moral di zaman modern.

Dengan melahirkan lulusan yang berotak Jerman tapi berhati Mekah, meminjam istilah B.J. Habibie, kampus akan menjadi pilar utama dalam membangun peradaban bangsa yang tidak hanya maju secara materi, tetapi juga mulia secara ruhani. Inilah kontribusi terbesar yang bisa diberikan oleh institusi pendidikan tinggi bagi bangsa Indonesia dan bagi kemanusiaan secara luas. Hanya dengan demikian, ilmu pengetahuan akan benar-benar menjadi cahaya (nur) yang menuntun manusia menuju kebahagiaan sejati.


*) Nur Hasanah Nurdin adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Fakultas Agama Islam.


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
All users can see, edit, or delete their personal information at any time (except they cannot change their username). nike mens 2013 14 hellas verona alternate away shorts / yellow / rrp £29.