Kuala Lumpur, Malaysia – harianjatim.com Pembahasan mengenai HIV/AIDS dan infeksi menular seksual (IMS) hingga kini masih dianggap sebagai topik sensitif di sejumlah lembaga pendidikan berbasis agama. Kekhawatiran akan dianggap membuka ruang diskusi yang tabu membuat pendidikan terkait kesehatan reproduksi dan penyakit infeksi kerap terbatas, bahkan tidak jarang dihindari.
Padahal, minimnya pemahaman justru dapat meningkatkan kerentanan remaja terhadap informasi keliru, stigma sosial, hingga ancaman penularan penyakit infeksi yang semakin berkembang di tengah tingginya mobilitas masyarakat global saat ini.
Situasi tersebut menjadi perhatian Research Center on Global Emerging and Re-emerging Infectious Diseases (RC-GERID) Universitas Airlangga (UNAIR) bersama Universiti Putra Malaysia (UPM) melalui program pengabdian masyarakat internasional di Maahad Tahfiz Ihya’ Al-Ahmadi, Kuala Lumpur, Malaysia, pada Selasa (12/5).
Tidak menghindari isu yang dianggap sensitif, tim UNAIR dan UPM justru memilih membuka ruang diskusi bersama para santri mengenai HIV/AIDS, IMS, serta berbagai penyakit infeksi lain yang berpotensi muncul di lingkungan sekolah berasrama.
Kegiatan tersebut melibatkan tim peneliti RC-GERID, mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Vokasi UNAIR, serta peserta KKN Internasional. Sebelumnya, RC-GERID juga diketahui telah melaksanakan program serupa di Johor, Malaysia.
Pihak pesantren melalui Ustadzah Siti menyampaikan apresiasi terhadap pendekatan edukatif yang dibawa oleh tim UNAIR dan UPM. Menurutnya, santri memerlukan wawasan kesehatan yang cukup agar mampu menjaga diri sekaligus lingkungan sekitar.
“Kami berbesar hati kerana pasukan UNAIR dan UPM sudi hadir ke sekolah kami. Kami berharap anak-anak kami dapat belajar daripada penyampaian tentang penyakit berjangkit,” ujar Ustadzah Siti.
Peneliti RC-GERID UNAIR, Dwi Ratna Indriati, Ph.D., menjelaskan bahwa masih banyak remaja yang belum memahami bentuk maupun pola penularan IMS. Dalam sesi pemaparannya, ia mengulas berbagai jenis penyakit, di antaranya klamidia, sifilis, gonore, hepatitis B, HIV, HPV, herpes genital, hingga trikomoniasis.
Menurut Dwi, penyebaran penyakit tersebut dapat terjadi melalui hubungan seksual yang tidak aman, transfusi darah, penggunaan jarum suntik secara bergantian, maupun penularan dari ibu kepada anak selama masa kehamilan.
“Tindakan-tindakan berisiko tersebut perlu dihindari bersama sebagai bagian dari langkah pencegahan,” katanya.
Di sisi lain, Dr. Siti Qamariyah Khairunisa menyoroti masih kuatnya stigma sosial terhadap orang dengan HIV/AIDS. Ia menilai, stigma menjadi salah satu hambatan utama yang membuat edukasi HIV belum sepenuhnya diterima secara terbuka di sebagian masyarakat.
“HIV sampai saat ini belum memiliki vaksin. Obat ARV hanya membantu menekan perkembangan virus, bukan menyembuhkan. Karena itu, yang harus dihindari adalah virusnya, bukan orang yang hidup dengan HIV,” ujar Ria.
Pada Kamis (14/5), saat dihubungi tim media ini, Ketua RC-GERID UNAIR, Laura Navika Yamani, Ph.D., menambahkan bahwa lingkungan sekolah maupun asrama memiliki potensi tinggi terhadap penyebaran penyakit infeksi apabila kebersihan pribadi dan lingkungan tidak dijaga dengan baik.
Ia mencontohkan sejumlah penyakit seperti skabies, campak, malaria, hingga tuberkulosis yang dapat menyebar lebih cepat di lingkungan dengan tingkat kepadatan penghuni tinggi.
“Dalam ajaran Islam, menjaga kebersihan juga menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Nilai itu perlu terus diperkuat karena kebersihan merupakan salah satu langkah utama mencegah penyakit,” ujar Laura.
Selain penyuluhan kesehatan, agenda tersebut juga diisi dengan pengenalan kampus Universitas Airlangga oleh mahasiswa KKN Internasional serta pemeriksaan golongan darah yang dilakukan mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik.
Para santri terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Mereka aktif berdialog dan mengajukan pertanyaan terkait kesehatan remaja serta penyakit infeksi yang selama ini masih jarang menjadi pembahasan terbuka di lingkungan mereka.
Melalui kegiatan ini, RC-GERID UNAIR dan UPM ingin menegaskan bahwa edukasi mengenai HIV dan penyakit infeksi tidak perlu dipandang sebagai ancaman terhadap nilai moral maupun agama. Sebaliknya, keterbukaan informasi serta dialog yang sehat justru menjadi langkah penting untuk melindungi generasi muda dari risiko penyakit menular di masa mendatang. (*)


