Reporter: harianjatim
Sumenep-harianjatim.com. Jalan Poros Soddara–Lebeng Timur di Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, telah lama mengalami kerusakan. Ruas yang menjadi akses utama masyarakat di wilayah selatan kecamatan itu disebut belum mendapat perbaikan menyeluruh selama sekitar satu dekade. Sementara itu, pemerintah kecamatan menyatakan usulan peningkatan jalan telah diajukan dan kini menunggu alokasi anggaran dari Pemerintah Kabupaten Sumenep.
Kerusakan jalan mendorong warga Dusun Panyepen, Desa Lebeng Timur, bergotong royong menutup lubang-lubang di badan jalan menggunakan batu, tanah, dan material seadanya. Langkah itu ditempuh agar kendaraan masih dapat melintas dengan lebih aman.
Bagi warga, gotong royong tersebut menjadi solusi sementara di tengah belum terealisasinya perbaikan permanen. Jalan itu setiap hari dilalui masyarakat menuju pasar, sekolah, puskesmas, kantor pemerintahan, serta menjadi jalur distribusi hasil pertanian.
Camat Pasongsongan Fariz Aulia Utomo mengatakan, pemerintah kecamatan telah mengusulkan peningkatan Jalan Poros Soddara–Lebeng Timur melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kecamatan (Musrenbangcam) 2026. Usulan tersebut telah dimasukkan ke dalam Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD).
“Terkait peningkatan Jalan Poros Soddara–Lebeng Timur, kami sudah mengusulkannya melalui Musrenbangcam 2026 melalui aplikasi SIPD. Selanjutnya menunggu ketersediaan dana di APBD Kabupaten Sumenep,” kata Fariz saat dihubungi melalui WhatsApp, Senin (29/6/2026).
Menurut Fariz, realisasi pembangunan bergantung pada kemampuan keuangan daerah.
“Iya, masih menunggu anggaran kabupaten. Mohon dukungan dari semua pihak,” ujarnya.
Ia berharap usulan tersebut dapat menjadi prioritas karena jalan itu menghubungkan kawasan selatan dan utara Kecamatan Pasongsongan.
“Harapan kami dan juga masyarakat, jalan tersebut bisa segera diperbaiki sehingga mempercepat akses distribusi masyarakat dari selatan gunung menuju utara gunung maupun sebaliknya,” katanya.
Di lapangan, kerusakan jalan terlihat di sejumlah titik. Permukaan jalan berlubang dan bergelombang sehingga menyulitkan pengguna. Pada musim hujan, lubang tertutup genangan air yang meningkatkan risiko kecelakaan. Adapun pada musim kemarau, debu dari badan jalan mengganggu aktivitas warga.
“Setiap melewati jalan ini kami harus ekstra hati-hati. Baik menggunakan sepeda motor maupun mobil, semuanya harus pelan-pelan karena kerusakannya sangat parah,” ujar Mashudi, tokoh masyarakat setempat.
Menurut Mashudi, kerusakan jalan telah berlangsung sekitar 10 tahun tanpa perbaikan menyeluruh. Selama itu pula kondisinya terus memburuk akibat tingginya intensitas penggunaan dan pengaruh cuaca.
Karena belum ada penanganan permanen, warga memilih memperbaiki jalan secara swadaya. Mereka menyadari upaya tersebut hanya bersifat sementara. Namun, bagi warga, langkah itu menjadi pilihan agar akses utama yang menghubungkan permukiman dengan pusat kecamatan tetap dapat digunakan sambil menunggu realisasi pembangunan dari pemerintah kabupaten.
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.
(Red)


