Dari Tanah Rantau, Nikmat Harahap Menulis Mimpi Menjadi Penulis

  • Bagikan

|| Penulis: Nikmat Harahap

Jauh dari rumah, seseorang tidak hanya belajar bagaimana bertahan hidup. Ia juga belajar mengenali dirinya sendiri, menemukan jalan yang ingin ditempuh, dan perlahan membuktikan bahwa mimpi yang pernah dianggap sederhana dapat menjadi sesuatu yang nyata.

Perjalanan itulah yang dijalani Nikmat Harahap. Pemuda asal Sumatera Utara itu memilih Jakarta sebagai salah satu tempat untuk mengejar cita-cita yang telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar: menjadi penulis.

Di tengah kehidupan sebagai anak rantau, Nikmat tidak hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia menyisihkan waktu untuk menulis, membuat konten, dan membangun ruang bagi karyanya di media sosial.

Kini, dua buku telah lahir dari perjalanan tersebut. Buku pertamanya, Dunia Emang Sejahat Ini, diterbitkan pada 20 Maret 2025. Setahun kemudian, ia menerbitkan karya kedua, Doa Ibu yang Udah Tiada, pada 28 April 2026.

Bagi Nikmat, kedua buku itu bukan sekadar kumpulan tulisan. Ada pengalaman, kegelisahan, kehilangan, keluarga, dan pergulatan kehidupan yang ia coba tuangkan menjadi cerita.

“Saya ingin nama saya abadi di dalam karya buku,” kata Nikmat.

Lahir pada 28 April 2003, Nikmat tumbuh dengan ketertarikan pada dunia literasi. Ia mulai menulis sejak kelas V sekolah dasar. Minat itu tidak berhenti ketika ia beranjak dewasa.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Al-Mukhtaryah Sungai Dua, Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara, pada 23 Juni 2023, ia memutuskan melanjutkan perjalanan di tanah rantau.

Jakarta menjadi tempat ia membangun kembali mimpi tersebut.

Merantau membuat Nikmat berhadapan dengan kenyataan yang berbeda dari kehidupan di kampung halaman. Jarak dengan keluarga, tuntutan untuk mandiri, serta kebutuhan mencari penghasilan menjadi bagian dari keseharian.

Namun, keadaan itu tidak membuatnya meninggalkan dunia yang sejak kecil ia sukai.

Justru dari perantauan, ia mencoba mengubah tulisan menjadi karya yang dapat dinikmati orang lain.

Ketika tulisan bertemu dunia digital

Nikmat menggunakan nama Nikmat HRP dalam dunia kepenulisan. Nama tersebut kemudian berkembang menjadi identitas yang ia bawa ke berbagai platform digital.

Ia aktif membagikan tulisan dan konten melalui media sosial. Akun TikTok @nikmathrp_ disebut telah memiliki sekitar 65.000 pengikut. Di Instagram, akun @nykamathrp_ memiliki sekitar 20.000 pengikut. Sementara kanal YouTube @nikmat_official telah memiliki sekitar 12.000 pelanggan.

Media sosial menjadi ruang lain bagi Nikmat untuk memperkenalkan karya sekaligus berinteraksi dengan pembaca.

Ia menyebut buku-bukunya telah dibaca lebih dari 50.000 orang. Penjualan buku juga disebut mencapai sekitar 100 eksemplar setiap bulan.

Angka-angka tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang menurut Nikmat tidak dibangun dalam waktu singkat.

Menulis, baginya, bukan hanya soal menerbitkan buku. Ada proses panjang untuk menemukan pembaca, membangun kepercayaan, dan menjaga konsistensi berkarya.

Tema yang dipilihnya pun tidak jauh dari kehidupan manusia. Dunia Emang Sejahat Ini dan Doa Ibu yang Udah Tiada membawa pembaca pada persoalan yang dekat dengan pengalaman banyak orang: kehidupan, keluarga, kehilangan, dan perasaan yang kerap sulit diungkapkan.

Dari sana, Nikmat ingin tulisannya tidak hanya berhenti sebagai karya pribadi. Ia berharap buku-bukunya dapat dikenal lebih luas, bahkan dibaca masyarakat di luar Indonesia.

Mimpi yang belum selesai

Dua buku yang telah diterbitkan belum membuat Nikmat merasa sampai pada tujuan akhir.

Sebaliknya, dua karya tersebut menjadi pijakan untuk melanjutkan perjalanan. Ia masih ingin menulis, memperluas pembaca, dan mengembangkan konten di ruang digital.

Ada satu alasan yang membuat perjalanan itu terus dijalani: keluarga.

Sebagai anak rantau, Nikmat ingin keberhasilannya kelak bukan hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga sesuatu yang dapat membuat kedua orang tuanya bangga.

Karena itu, ia menganggap merantau bukan sekadar meninggalkan kampung halaman.

Tanah rantau adalah tempat ia belajar berdiri dengan kemampuan sendiri, sekaligus tempat ia mencoba mewujudkan mimpi yang dulu hanya tersimpan dalam kepala seorang anak sekolah dasar.

Kepada anak-anak muda yang sedang merantau, Nikmat berpesan agar tidak terlalu takut mencoba sesuatu yang baru.

“Jangan takut bermimpi besar. Teruslah berusaha, bekerja keras, dan jangan pernah lupakan doa serta restu kedua orang tua. Tidak ada perjuangan yang sia-sia jika dilakukan dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan anak muda untuk memanfaatkan kesempatan selama masih memiliki waktu.

“Mumpung kita masih muda, cobain saja semua hal baru yang belum pernah kita coba, selagi itu positif, membuat kita maju, dan menguntungkan kita serta orang-orang sekitar. Rezeki itu tidak tahu datang dari mana,” katanya.

Pada akhirnya, perjalanan Nikmat belum selesai. Masih ada buku yang ingin ditulis, pembaca yang ingin dijangkau, dan mimpi yang ingin diwujudkan.

Tetapi dari Jakarta, ia telah menemukan satu hal penting: bahwa bagi seorang anak rantau, rumah tidak selalu menjadi tempat seseorang kembali.

Kadang, rumah adalah mimpi yang terus diperjuangkan hingga suatu hari benar-benar menjadi kenyataan.


||* Penulis Buku


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google  News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com    

Download sekarang!

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90