Gus Lilur Tegaskan Slogan “Ber-NU Tanpa Ber-PBNU” Usai Muktamar NU ke-35 di Jombang

  • Bagikan
HRM. Khalilur R Ab. S (Dok. Ist)

Jombang – harianjatim.com Slogan “Ber-NU Tanpa Ber-PBNU” kembali digaungkan HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur setelah pelaksanaan Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Gus Lilur mengungkapkan, istilah “Ber-NU Tanpa Ber-PBNU” sebenarnya telah ia lontarkan sejak Januari 2022, tidak lama setelah pelaksanaan Muktamar NU ke-34 di Lampung.

Melalui pernyataannya pada Senin (14/9) menurut Gus Lilur, ketika pertama kali menyampaikan slogan tersebut, dirinya mendapatkan banyak kritik dan sindiran dari berbagai pihak.

“Saya membuat istilah Ber-NU tanpa Ber-PBNU ini Januari 2022. Saat itu saya dikecam dan dinyinyirin banyak orang. Saya tertawakan mereka sambil bergumam, kalian belum tahu,” ujar Gus Lilur.

Ia kemudian mengaitkan kembali slogan tersebut dengan dinamika yang terjadi di lingkungan kepengurusan PBNU setelah Muktamar NU ke-34.

Gus Lilur menilai berbagai persoalan internal yang mencuat di tubuh PBNU membuat sebagian warga NU merasa kecewa dan malu. Ia menyebut adanya konflik antarmandataris Muktamar NU ke-34, saling membuka persoalan internal hingga pemecatan yang menurutnya menjadi perhatian warga NU.

“Mandataris Muktamar ke-34 Lampung berantem, saling buka borok sendiri, saling pecat. Semua warga NU malu pada kelakuan mereka yang di PBNU,” katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat istilah “Ber-NU Tanpa Ber-PBNU” yang sebelumnya mendapat cibiran justru semakin relevan bagi dirinya.

Kembali Digaungkan Setelah Muktamar NU ke-35

Pasca Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang, Gus Lilur kembali melontarkan slogan yang sama.

Ia mengatakan, slogan tersebut kemudian mendapatkan respons dengan munculnya sejumlah ungkapan lain yang memiliki makna serupa, antara lain “Ber-NU selamanya ber-PBNU sekedarnya”, “Ber-NU saklawase ber-PBNU sak cukupè”, dan “Ber-NU saklawasè ber-PBNU sekedarè.”

Bagi Gus Lilur, substansi dari slogan tersebut bukanlah ajakan untuk meninggalkan Nahdlatul Ulama (NU), melainkan membedakan antara menjalankan ajaran ke-NU-an dengan keterikatan terhadap struktur kepengurusan PBNU.

Ia menjelaskan bahwa ber-NU, menurut pemahamannya, adalah menjalankan ajaran Islam dengan metode keagamaan yang selama ini diajarkan ulama NU.

“Ber-NU bagi saya adalah beragama Islam dengan cara NU,” tegasnya.

Gus Lilur kemudian menyebut tiga prinsip keagamaan yang menurutnya menjadi bagian penting dari cara beragama NU, yakni bermazhab Syafi’i, berakidah Asy’ari, serta bertasawuf dengan mengikuti ajaran Imam Junaid Al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali.

Ia berpandangan, pengamalan tiga prinsip tersebut tidak mensyaratkan seseorang harus menjadi bagian dari struktur PBNU.

“Mengamalkan tiga cara beragama sesuai ajaran NU di atas tidak perlu ber-PBNU. Para kiai alim NU sudah mengajarkan kami hal tersebut,” ujarnya.

Soroti Rais Aam PBNU

Dalam pernyataannya, Gus Lilur juga menyampaikan kritik keras terhadap posisi Rais Aam PBNU. Ia secara khusus menyoroti KH Miftahul Akhyar yang sebelumnya menjabat Rais Aam PBNU.

Gus Lilur menyatakan bahwa dirinya mempertanyakan kapasitas keilmuan Rais Aam karena menilai terdapat sejumlah hal dalam pidato yang disampaikan pada agenda resmi NU yang menurutnya bermasalah.

Ia menyebut dua video yang dibuat atas permintaannya kepada tim, yakni video yang menampilkan anak tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) memberikan komentar terhadap dua pidato Rais Aam PBNU.

Dua pidato yang dimaksud adalah pidato penutupan Munas dan Konbes NU di Bangkalan serta pidato pembukaan Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang.

“Dua video SITI tersebut saya yang bikin, saya minta tim saya untuk membuat video tersebut,” ungkapnya.

Gus Lilur bahkan menyebut video tersebut sebagai fakta dan bukti yang menurut versinya menunjukkan persoalan kapasitas keilmuan Rais Aam.

Ia juga mengklaim pernah merilis kritik terhadap pidato Rais Aam dalam penutupan Munas-Konbes NU di Bangkalan ke sejumlah media dengan isu yang disebutnya berkaitan dengan plagiarisme dan kesalahan penggunaan harakat.

“Saya Menolak Dipimpin Kiai Awam”

Gus Lilur kemudian menghubungkan kritik tersebut dengan sikapnya untuk tidak terikat secara struktural dengan PBNU.

Ia mengatakan dirinya merasa telah berguru kepada banyak kiai yang dianggapnya alim di lingkungan NU. Karena itu, ia menyatakan tidak ingin dipimpin oleh sosok yang menurut penilaiannya tidak memiliki kapasitas keilmuan yang memadai.

“Karena Rais Aam awam, saya yang berguru pada banyak kiai alim di NU menolak dipimpin kiai awam. Ber-NU tanpa ber-PBNU,” tegas Gus Lilur.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan kembali posisi Gus Lilur mengenai hubungan antara warga NU, ajaran NU, dan struktur PBNU setelah Muktamar NU ke-35.

Meski menggunakan slogan yang terdengar kritis terhadap struktur PBNU, Gus Lilur tetap menempatkan NU sebagai bagian dari cara beragama, khususnya melalui tradisi fikih mazhab Syafi’i, akidah Asy’ariyah dan tasawuf yang dinisbatkan kepada ulama seperti Imam Junaid Al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali.

Di akhir pernyataannya, Gus Lilur menegaskan sikap tersebut sebagai bagian dari apa yang ia sebut sebagai “Amar Makruf Nahiy Mungkar.”

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90