Reporter : Junaidi
Sumenep – Harianjatim.com, Setiap wilayah tentu memiliki tradisi atau kebiasaan tersendiri. Banyak tradisi yang dilakukan warga setiap hari. Salah satunya “Marung”.
“Marung” merupakan istilah orang Madura di pelosok desa yang mayoritas mengartikan pergi ke warung atau tempat ngopi.
Masyarakat Madura khususnya di Desa Rombiya Timur. Secara adminitrasi Rombiya Timur satu dari 14 desa di wilayah Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep.
Marung menjadi salah satu kebiasaan warga setiap hari. Kalau tidak marung seakan ada kegiatan yang ditinggalkan dan cukup membekas di hati warga pada hari itu.
Kebiasaan ini mendorong sebagian warga untuk membuka usaha baru. Sejak beberapa tahun terkahir hingga saat ini terdapat 15 warung kopi yang tersebar di beberapa dusun di Desa Rombiya Timur.
Meski jaraknya berdekatan, namun tidak pernah sepi. Seakan setiap pemilik warung memiliki pelanggan setia, jumlahnya mencapai puluhan orang setiap hari.
Uniknya lagi, antara pemilik warung satu dan yang lain tetap santai dan tidak pernah memiliki rasa iri, apalagi sampai terjadi tauran. Mereka tetap rukun dan tidak pernah merasa usahanya di kebiri.
Sejauh ini memang belum diketahui secara pasti sejarah marung, karena belum ada yang melakukan penelitian. Namun, kebiasaan ini menarik untuk didalami karena masuk salah satu kebiasaan atau tradisi unik warga di pelosok desa.

Apalagi, warga sekali marung membutuhkan waktu yang bisa dibilang lama, yakni antara satu hingga tiga jam lamanya.
“Biasanya masyarakat dua kali marung setiap hari. Kalau pagi mulai Pukul 6.00 Wib kalau malam setelah Isya’. Paling tidak sekali marung antara 1 hingga 3 jam lamanya,” tutur tokoh pemuda di Desa Rombiya Timur Yanto S.
Pemilik warung kopi biasanya tidak menyediakan kopi dengan varian rasa, kebanyakan hanya kopi tubruk. Sebagai teman saat ngopi, pemilik kopi menyediakan camilan. Seperti pisang goreng, tahu isi dan jenis gorengan yang lain.
Dari segi harga, satu cangkir kopi sangat terjangkau, yakni Rp1 ribu. Sementara untuk harga camilan diantara Rp500 rupiah hingga Rp1 ribu.
Terdapat beberapa alasan warga sering marung, salah satunya karena kepencut rasa kopi yang disajikan pemilik warung dari pada rasa kopi yang dibuat di rumahnya masing-masing.
Namun, alasan tersebut sifatnya relatif yang tidak semua orang membenarkan. Jika ngopi sebagai sarana mempercepat akses informasi dan ajang silaturrahmi, ini menjadi alasan yang bisa diterima semua kalangan.
Sebab, warga yang suka marung berasal dari berbagai profesi, mulai dari pekerja kantoran hingga petani pada umumnya, serta digemari semua kalanga dari usia remaja hingga orang tua. Sebelum beraktifitas mereka memilih marung terlebih dahulu.
“Kalau bagi warga yang tinggal di perkotaan ada koran atau media elektronik untuk mengakses informasi, kalau di peelosok desa ya marung ini cara untuk mengakses informasi yang paling cepat,” kata Yanto.

Artikel Terbaru :
- Seret Eks Menag Yaqut, Gus Lilur Desak KPK Transparan soal Aliran Dana Kasus Korupsi Kuota Haji
- Viral ABG 14 Tahun di Jombang Jual Temannya ke Pria Hidung Belang, Kuasa Hukum: Itu Fitnah
- Baru Diberlakukan, Perbup Busana Budaya Keraton di Sumenep Tuai Kritik
- Urgensi Pengembangan Pendidikan Karakter pada Generasi Z dalam Perspektif Islam
- Sektor Pertanian Meningkat, Legislator Dorong Pemprov Jatim Lakukan Penguatan SDM
Selalu simak berita terkini Harianjatim.com melalui kanal Telegram “Harian Jatim [dot] Com”. Klik https://t.me/harianjatim untuk bergabung.
(Jd/Waid)
Tonton Video Berikut :


