Reporter: Junaidi
Sumenep-harianjatim.com. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep berencana akan melakukan pengukuran ulang lahan pertanian di Desa Rombiya Timur, Kecamatan Ganding, Sumenep, Jawa Timur.
“Kami bersama BPS nanti akan melakukan poligon (pengukuran),” kata Kepala DKPP Sumenep, Arif Firmanto, Minggu,
Poligon adalah metode untuk menentukan posisi horizontal dari titik-titik di lapangan yang berupa segi banyak dengan melakukan pengukuran sudut dan jarak. tujuannya adalah untuk mendapatkan data-data lapangan berupa koordinat horizontal (x,y). Metode ini biasa dilakukan untuk mengukur tanah dengan memakai peralatan canggih.
Langkah tersebut untuk dilakukan untuk menvalidasi data luas lahan pertanian di desa tersebut.
Baca: Dinas Pertanian Pastikan Tak Ada Penyimpangan Distribusi Pupuk Subsidi
Selama ini kata dia pengajuan pupuk subsidi yang dilakukan oleh Kelompok Tani melalui sistem elektronik rencana definitif kebutuhan kelompok (e-RDKK) mengacu pada luasan tanaman yg direncanakan di MT-1, MT-2 dan MT-3 (Musim Tanam)
Hanya saja Kata Arif, data itu juga pastinya disandingkan dengan luasan lahan pertanian yang tertera di BPS.
“Penentuan kebutuhan pupuk itu bukan dari kebutuhan lahan, namun kebutuhan tanaman
dari luasan tanaman yang akan ditanam oleh petani,” jelas dia.
Bisa saja kata dia, luas wilayah desa lebih kecil namun lahan pertanian yang ditanami petani lebih luas. Seperti yang terjadi di Desa Rombiya Timur.
“Data BPS memang seperti itu, nah untuk melakukan kroscek ulang harus di poligon. Ini langkah kami untuk menjawab keluhan petani,” tegas dia.
Sebelumnya Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Rombiya Timur Isma’il mengatakan, salah satu penyebab terjadinya kelangkaan pupuk subsidi akibat data luasan lahan pertanian tidak valid atau lebih kecil.
Sesuai data yang dimiliki, luas lahan pertanian di Desa Rombiya Timur 131,46 Ha. Data tersebut menunjukkan lebih kecil dari luasan data lahan pertanian di Desa Rombiya Barat yang mencapai 298,85 Ha. Padahal kata Isma’il dilihat dari luasan wilayah dan potensi pertanian dianggap lebih luas di desa binaannya.
“Jadi wajar selama ini petani selalu kekurangan pupuk subsidi, karena memang datanya kami anggap kurang benar,” tegas dia.
Baca Juga : Terungkap Biang Kerok Penyebab Kelangkaan Pupuk Subsidi di Desa Rombiya Timur
(jd/red)


