Tuban-Lahan pertanian di sepanjang jalur pipa minyak ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) kini menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa. Melalui kolaborasi antara Yayasan eL-SAL Indonesia dan Politeknik Pertanian dan Peternakan (Poltana) Mapena Tuban, praktik pertanian berkelanjutan yang selama ini sukses dijalankan petani mulai diintegrasikan dengan dunia kampus, Selasa (5/5/2026).
Langkah ini diambil untuk menjembatani teori di kelas dengan realita di lapangan. Mahasiswa kini diterjunkan langsung ke lahan demplot milik warga di wilayah Soko hingga Palang untuk mempelajari bagaimana petani setempat berhasil menekan biaya produksi hingga 24 persen dan mendongkrak hasil panen hingga 10 ton per hektar melalui sistem semi-organik.
Perwakilan EMCL, Joni Wicaksono, menyebut kolaborasi ini sebagai upaya memperkuat kapasitas petani sekaligus memberikan pengalaman nyata bagi calon tenaga ahli pertanian. “Kami ingin praktik pertanian yang produktif di sekitar jalur pipa ini menjadi referensi belajar yang berkelanjutan,” ujarnya.

Wakil Direktur Poltana Mapena, Masrur Muzadi, menekankan bahwa keterlibatan mahasiswa di lapangan adalah kunci regenerasi petani. Di lahan demplot cabai, mahasiswa berdiskusi langsung dengan dosen dan petani mengenai pengolahan lahan serta pengendalian hama tanpa ketergantungan penuh pada bahan kimia.
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya melihat teori, tapi menyaksikan langsung bagaimana inovasi petani bisa menjawab tantangan mahalnya pupuk. Ini penting untuk menumbuhkan minat generasi muda terhadap sektor pertanian,” tegas Masrur.
Manajer Program eL-SAL Indonesia, Imam Muqroni, menambahkan bahwa keberadaan mahasiswa di lapangan memberikan energi baru bagi petani untuk terus berinovasi. Sinergi antara praktisi desa dan akademisi ini diharapkan mampu menciptakan standar baru bagi pengembangan pertanian berkelanjutan di Kabupaten Tuban.


