|| Penulis: Nurifa Oktafia Herawati*
Tradisi Larung Sesaji dan Kenduren Kali Brantas di Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang masih terus dilakukan sampai sekarang. Tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang penuh makna. Di dalamnya terdapat hubungan antara manusia, alam, dan kepercayaan yang telah diwariskan sejak dahulu. Kini, tradisi ini juga dikemas dalam Festival Kali Brantas agar lebih menarik dan dapat diikuti banyak orang. Jika dilihat dari sudut pandang sastra anak, tradisi ini sebenarnya memiliki banyak nilai yang dapat dikenalkan kepada anak-anak, misalnya melalui cerita, dongeng, atau kegiatan seni.
Salah satu bagian penting dari tradisi ini adalah prosesi larung sesaji, yaitu melepas bibit ikan ke Sungai Brantas. Biasanya, kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan gendok dari gerabah khas daerah setempat. Kegiatan ini bukan hanya simbolis, tetapi juga menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, terutama sungai. Selain itu, terdapat pula tumpeng dan jajanan pasar yang disiapkan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan sekaligus penghormatan kepada leluhur.
Jadi, tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan budaya, tetapi juga memiliki nilai spiritual. Jika dikaitkan dengan sastra anak, tradisi ini dapat dijadikan cerita yang menarik. Misalnya, anak-anak dapat belajar bahwa ikan melambangkan kehidupan, sungai sebagai sumber kehidupan, dan gerabah sebagai ciri khas budaya lokal. Cerita seperti ini dapat dibuat dalam bentuk dongeng atau drama sederhana agar lebih mudah dipahami. Dalam Festival Kali Brantas juga terdapat berbagai pertunjukan, seperti tari, puisi, dan drama.
Kegiatan seperti ini sangat cocok untuk anak-anak karena dapat melatih kreativitas dan keberanian mereka. Anak-anak tidak hanya menonton, tetapi juga dapat ikut terlibat langsung. Selain itu, tradisi ini juga membuat hubungan antarwarga menjadi lebih dekat. Banyak orang ikut terlibat, mulai dari masyarakat umum hingga seniman. Dari sini terlihat bahwa tradisi seperti ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi cara untuk menanamkan nilai kebersamaan.
Selain itu, jika dilihat lebih dalam, tradisi ini juga mengandung nilai pendidikan karakter yang penting bagi anak-anak. Misalnya, nilai gotong royong terlihat saat masyarakat bersama-sama mempersiapkan acara, mulai dari membuat sesaji hingga mengatur jalannya kegiatan. Nilai tanggung jawab juga tampak dari peran masing-masing individu dalam menjaga kelancaran tradisi tersebut. Hal ini dapat menjadi contoh nyata bagi anak-anak tentang bagaimana bekerja sama dan saling membantu dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks sastra anak, nilai-nilai tersebut dapat dikemas dalam berbagai bentuk karya, seperti cerita bergambar, komik, atau cerita pendek yang sederhana. Dengan demikian, anak-anak tidak merasa sedang diajari secara langsung, tetapi tetap dapat memahami pesan moral yang disampaikan. Selain itu, penggunaan tokoh-tokoh yang dekat dengan kehidupan anak, seperti anak kecil yang ikut dalam festival atau tokoh ikan di sungai, dapat membuat cerita menjadi lebih menarik dan mudah diingat.
Tidak hanya itu, tradisi ini juga dapat menjadi sarana untuk mengenalkan kearifan lokal kepada anak-anak sejak dini. Di tengah perkembangan teknologi dan budaya modern, banyak anak yang mulai jauh dari budaya daerahnya sendiri. Melalui cerita yang diangkat dari tradisi Larung Sesaji dan Kenduren Kali Brantas, anak-anak dapat lebih mengenal identitas budaya mereka. Hal ini penting agar generasi muda tetap memiliki rasa bangga terhadap budaya lokal dan tidak mudah melupakan warisan leluhur.
Selain sebagai media pembelajaran, tradisi ini juga dapat dijadikan inspirasi dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Guru dapat mengajak siswa untuk membuat cerita, puisi, atau bahkan drama yang terinspirasi dari tradisi tersebut. Dengan cara ini, proses belajar menjadi lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Anak-anak juga dapat mengembangkan imajinasi serta kemampuan berbahasa mereka melalui kegiatan tersebut.
Tradisi Larung Sesaji dan Kenduren Kali Brantas memiliki banyak makna, mulai dari rasa syukur, kepedulian terhadap alam, hingga kebersamaan antarwarga. Dalam sastra anak, tradisi ini dapat dijadikan inspirasi untuk membuat cerita yang tidak hanya menarik, tetapi juga mendidik. Jika terus dikenalkan kepada generasi muda, terutama anak-anak, tradisi ini dapat tetap bertahan dan tidak hilang. Selain itu, anak-anak juga dapat belajar untuk lebih menghargai budaya dan lingkungan di sekitarnya.
Dengan demikian, pelestarian tradisi tidak hanya menjadi tanggung jawab orang dewasa, tetapi juga dapat melibatkan anak-anak melalui pendekatan yang kreatif dan menyenangkan. Jika hal ini dilakukan secara terus-menerus, maka tradisi Larung Sesaji dan Kenduren Kali Brantas tidak hanya akan tetap hidup, tetapi juga berkembang sesuai zaman tanpa kehilangan nilai-nilai aslinya.
|| * Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia – Universitas Muhammadiyah Malang
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus updatetopik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


