Stop Bullying, Start Caring

  • Bagikan
Lailil Mar’atus Sabrina

|| Penulis : Lailil Mar’atus Sabrina*

Perundungan atau bullying merupakan tindakan menyakiti orang lain secara sengaja, baik melalui ucapan, tindakan fisik, maupun media digital. Fenomena ini masih sering terjadi di lingkungan sekolah dan menjadi persoalan serius karena dapat meninggalkan dampak psikologis yang mendalam bagi korban. Tidak sedikit korban perundungan mengalami rasa takut, kehilangan kepercayaan diri, tertekan, bahkan kehilangan semangat belajar. Karena itu, perundungan tidak dapat lagi dianggap sebagai candaan atau hal biasa dalam pergaulan sehari-hari.

Bentuk perundungan pun semakin beragam. Mulai dari mengejek teman, memberikan julukan yang merendahkan, mengucilkan, menyebarkan rumor, hingga melakukan kekerasan fisik. Di era digital, perundungan juga berkembang melalui media sosial atau pesan daring yang dikenal sebagai cyberbullying. Banyak orang merasa bebas menuliskan hinaan di internet tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan. Padahal, kata-kata kasar di ruang digital dapat melukai perasaan seseorang sama dalamnya dengan kekerasan secara langsung.

Perundungan pada dasarnya lahir dari rendahnya rasa empati dan penghargaan terhadap sesama. Padahal setiap individu memiliki latar belakang, karakter, dan kemampuan yang berbeda. Tidak ada alasan untuk merendahkan seseorang karena penampilan fisik, kondisi ekonomi, suku, agama, ataupun kemampuan akademiknya. Lingkungan yang sehat justru dibangun melalui sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan.

Sebagai pelajar, penting untuk menumbuhkan budaya peduli terhadap sesama. Ketika melihat tindakan perundungan, seseorang tidak seharusnya ikut menertawakan atau memilih diam. Sikap diam sering kali membuat pelaku merasa tindakannya benar dan korban semakin merasa sendirian. Sebaliknya, keberanian untuk membantu korban, memberikan dukungan, atau melaporkan tindakan tersebut kepada guru dan orang dewasa yang dipercaya merupakan bentuk kepedulian yang sangat berarti.

Pencegahan perundungan dapat dimulai dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Menggunakan bahasa yang sopan, tidak mengejek teman, membangun pertemanan yang sehat, serta bijak dalam menggunakan media sosial merupakan langkah kecil yang memiliki dampak besar. Sekolah juga perlu menjadi ruang yang aman bagi seluruh siswa untuk tumbuh dan berkembang tanpa rasa takut.

Pada akhirnya, perundungan bukanlah tanda kekuatan, melainkan cerminan hilangnya rasa empati terhadap orang lain. Karena itu, menghentikan perundungan bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga tanggung jawab bersama sebagai bagian dari masyarakat yang beradab.

Sudah saatnya ruang pergaulan, baik di sekolah maupun di media sosial, dipenuhi dengan sikap saling menghargai dan peduli. Sebab setiap orang berhak dihormati, diterima, dan diperlakukan dengan baik tanpa rasa takut menjadi korban perundungan.


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Strong contextual links.