Reng Cena yang Pergi, Investor yang Datang: Catatan Perubahan Wajah Madura

  • Bagikan
Ilustrasi kawasan industri modern di Bangkalan, Madura. Pengembangan Kawasan Industri Wiraraja Madura melalui kerja sama Indonesia dan Tiongkok diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Timur, sekaligus membuka peluang investasi, industri manufaktur, dan lapangan kerja bagi masyarakat. (Foto: harianjatim)

Seorang aktivis, kiai, dan cendekiawan muda NU di Madura, A. Dardiri Zubairi, mengungkapkan refleksi tentang perubahan hubungan sosial dan ekonomi di Madura. Melalui unggahan Facebook pada 10 Agustus 2026, ia membandingkan keberadaan warga keturunan Tionghoa yang dahulu dikenal masyarakat sebagai “Reng Cena” dengan rencana masuknya investasi industri besar dari China di Madura.

Dalam tulisannya berjudul “Reng Cena; Dari Tetangga ke Investor”, Dardiri mengisahkan pengalaman masa kecilnya ketika sejumlah keluarga keturunan Tionghoa masih tinggal di desa sekitar tempat tinggalnya pada dekade 1980-an.

Saat itu, kata dia, warga menyebut mereka dengan istilah “Reng Cena”. Meski terdapat sejumlah prasangka sosial terhadap kelompok tersebut, hubungan antara warga lokal dan keturunan Tionghoa tetap berlangsung secara harmonis.

Berikut tulisan lengkapnya

Tahun dekade 80-an waktu saya masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah, di desa tetangga dekat rumah saya ada sekitar 8-9 KK (Kepala Keluarga) etnis tionghoa. Penduduk desa menyebutnya “reng Cena” (orang China). Sebutan ini, waktu itu, sama sekali tak dimaksudkan sebagai sikap rasis.

Prasangka rasial memang ada, misalnya di daerah saya “Reng Cena” digambarkan pelit. Agamanya beda, sebaiknya jangan beli di warungnya. Tetapi umumnya masyarakat lokal tidak terpengaruh dan tetap menjalin relasi sosial dengan mereka. Setahu saya memang tidak ada peristiwa besar seperti konflik ras atau ketegangan antara masyarakat lokal dan mereka.

Benar bahwa kehidupan mereka memang cenderung berjarak. Mereka kebanyakan tinggal di rumah karena sejak pagi hingga sore jaga warungnya. Malem sudah harus istirahat. Semua “Reng Cena” memang membuka warung, seperti orang Madura sekarang buka warung kelontong di perantauan.

Tetapi toh relasi sosial antara mereka dengan penduduk lokal tetap terjalin. Tetap akrab. Meski relasi itu umumnya tercipta di warungnya ketika penduduk lokal membeli sesuatu. Tetapi jika ada penduduk desa meninggal dunia, sebagian dari mereka melayat. Bahkan ikut tahlilan, meski mereka tidak baca apa-apa.

Saya sering membeli permen di warung “Reng Cena” ini. Waktu kecil hampir setiap hari saya membeli permen di situ, terutama saat main di lingkungan rumahnya. Anak “Reng Cena” se usia saya tak ada yang bermain bareng. Mereka di rumah. Jika keluar paling ketika berangkat ke sekolah negeri di kecamatan saya. Melihat orang cina bemata sipit dan berkulit putih, saya dulu bermimpi jika dewasa mau menikah sama perempuan china.

Ada “Reng Cena” yang juga tegas sama anak-anak. Jika ada anak yang masih main dekat rumahnya jelang Maghrib ditegur dan dimarahi. Mereka disuruh shalat dan mengaji. Tak ada teman yang marah. Juga tak ada orang tuanya yang marah. Inilah bentuk penghargaan pluralisme yang genuin. Di tingkat akar rumput lagi.

Tahun 90-an saya kuliah. Waktu itu anak anak “Reng Cena” sekolah atau kuliah ke luar kota. Sebagian yang tua meninggal, dan dimakamkan di desa yang jaraknya sekitar 4 km dari rumah duka. Ya di kecamatan saya ada pemakaman khusus Reng Cena .

Saya ingat ketika ada Reng Cena meninggal banyak yang menonton karena “aneh” bagi orang desa. Reng Cena ditaruh di “bandusa” (peti jenazah). Saya salah satu yang menontonnya. Dan sial ketika saya menyeberang sambil lari di depan rumah “Reng Cena” saya ditabrak motor . Saya pingsan dan terluka di betis bagian dalam yang bekasnya ada hingga sekarang.

Saat ini “Reng Cena” cuma tinggal 1 orang. Sementara yang lain sudah tiada, yang tua meninggal, sementara anak-anaknya hidup di kota atau pindah ke daerah lain. Rumah-rumah Mereka banyak yang dijual sama penduduk lokal. Cuma beberapa yang masih ada, meski penghuninya sudah kosong melompong. Kapan pastinya dan kenapa rumah itu ditinggal oleh anak-anaknya saya belum tahu.

Saya masih ingat beberapa nama nama (sesuai ejaan lisan) mereka; Balhin, Kengsu, Tangsit, Min, Kengbo, Juhing, dan Gambing. Nama-nama mereka sekarang sudah tidak ada, berikut rumah, tanah, dan jaringan ekonomi warung kelontongnya. Mereka cuma meninggalkan jejak sejarah.

Tetangga Reng Cena pergi, tiba-tiba saat ini ada kabar pulau saya akan banjir besar oleh investasi dari China. Perusahaan china akan direlokasi ke Madura, tepatnya di Bangkalan. Proyek besar yang butuh lahan 1.000 sampai 3.000 hektar ini akan menjadi pusat manufaktur terpadu dan tentunya pertama di Madura. Industri manufaktur yang hendak dibangun meliputi tekstil, benang, pengolahan cokelat, matras, dan berbagai sektor manufaktur padat karya lainnya.

Katanya proyek ini merupakan tindak lanjut dari program bilateral Two Countries Twin Parks (TCTP) yang menghubungkan kawasan industri di Indonesia dengan Guangdong, China.

Sekarang terjawab, dalam konteks inilah sebenarnya jembatan Suramadu dibangun. Madura akan menjadi penyangga kota Surabaya sebagai kota satelit setelah Sidoarjo, Gersik, Pasuruan Mojokerto dan Lamongan sesak oleh banyak industri. Akronim “Gerbangkertosusilo” dimana Bangkalan sejak lama masuk dalam skema besar daerah industri penyangga Surabaya، menyiratkan bahwa jembatan Suramadu memang dibuat satu paket dengan industri.

Biasa, pemerintah melalui kehadiran sentra baru industri di Bangkalan mengatakan akan menyerap banyak tenaga kerja. Ini adalah proyek padat karya. Sementara tak akan ada penjelasan bagaimana upah para buruh dan hak-hak lain para buruh. Dan Bangkalan akan menjadi kantong baru buruh murah yang tenaganya akan dieksploitasi oleh perusahaan tanpa ada jaminan perlindungan dari negara.

Sebagai kawasan industri baru dan pertama di Madura dengan mudah juga digambarkan akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, diembel-embeli biar perantau Madura balik untuk bekerja. Betul produksi jasa dan barang di kawasan industri baru akan mengalami pertumbuhan. Tetapi hasil akumulasi kapital dari pertumbuhan ekonomi itu tetap lebih banyak dihisap ke atas, kepada pemodalnya. Ke.bawah cukup tetesannya saja.

Ya, kedatangan investor dari China tentu tak akan sama dengan “Reng Cena “, tetangga saya dulu. “Reng Cena” cuma buka warung kecil, tetapi warung kecil menjadi ruang bertemunya dua ras yang terus menerus saling memahami. Sementara Investor China datang hanya modalnya. Dijalankan secara dingin oleh manajemen. Mengeruk untung dari buruh yang diupah murah. Tak akan ada usaha saling memahami, karena dalam sistem seperti ini “keuntungan” adalah berhala.

Merdeka

Sumenep, 10 Agustus 2026


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google  News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com    

Download sekarang!

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
simple tools to help you manage your online presence and connect with your audience across all platforms.