|| Penulis: Chelsea Mutia Hutagaol*
Ada hal menarik ketika saya berdiskusi dengan dua orang yang telah lama hidup bersama tradisi Topeng Malangan. Mereka adalah Pak Handoyo, penerus seni Topeng Malangan di Kabupaten Malang, dan Ibu Sol, perempuan yang lahir serta tumbuh di lingkungan tempat kesenian itu berkembang.
Keduanya berbicara dengan cara berbeda, tetapi menyampaikan pesan yang sama: Topeng Malangan bukan sekadar peninggalan budaya yang tinggal nama. Ia masih hidup. Namun, kehidupan seni tradisi itu kini tidak lagi mudah.
Topeng Malangan bukan kesenian yang muncul begitu saja. Ibu Sol menceritakan bahwa seni ini telah hadir sejak lama di daerahnya dan bermula dari seorang sesepuh bernama Bakarimon yang dikenal sebagai perintisnya. Sementara itu, Pak Handoyo menjelaskan bahwa topeng-topeng tersebut merepresentasikan tokoh-tokoh dari masa Kerajaan Kediri. Ada tokoh protagonis, antagonis, tokoh jenaka, hingga tokoh binatang. Topeng-topeng itu bukan sekadar benda pertunjukan, melainkan simbol nilai dan pembelajaran hidup yang diwariskan turun-temurun.
“Yang disampaikan itu pembelajaran hidup yang baik, yang dahulu dicontohkan oleh leluhur kita dan ingin kami sampaikan kepada anak muda sekarang,” ujar Pak Handoyo.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Menyampaikan nilai kehidupan dari generasi terdahulu kepada anak muda masa kini bukan perkara mudah. Generasi yang tumbuh bersama gawai dan arus informasi yang bergerak cepat tentu tidak otomatis tertarik duduk berjam-jam menyaksikan pertunjukan tradisional dengan alur panjang dan gerak yang rumit.
Pak Handoyo memahami tantangan tersebut. Alih-alih mempertahankan metode lama secara kaku, ia memilih beradaptasi. Jika dahulu satu tarian dapat berlangsung hingga 30 menit dengan gerakan yang kompleks, kini ia mengembangkan metode pembelajaran yang lebih singkat—tiga menit, lima menit, bahkan 30 detik—dengan gerakan yang lebih mudah dipelajari. Tujuannya sederhana, yakni agar anak-anak tidak cepat bosan dan tetap tertarik belajar.
Pendekatan itu ternyata berhasil. Di padepokan yang dikelolanya, terdapat empat program utama, yaitu latihan tari, karawitan, pembuatan topeng, dan pertunjukan rutin setiap bulan. Menurut Pak Handoyo, antusiasme anak-anak masih sangat tinggi. Permintaan tampil di berbagai pameran dan kegiatan budaya pun masih cukup banyak.
Hal penting yang perlu digarisbawahi ialah bahwa menyesuaikan metode bukan berarti mengkhianati tradisi. Justru di situlah tradisi menemukan cara untuk tetap relevan dengan zaman. Yang berbahaya bukanlah perubahan, melainkan ketidakmauan untuk berubah sama sekali.
Namun, di balik optimisme itu, Pak Handoyo juga menyampaikan kegelisahan yang patut mendapat perhatian lebih serius. Peminat tari memang masih ada, tetapi unsur-unsur lain dalam pertunjukan Topeng Malangan perlahan mulai menghilang. Jumlah pemain gamelan semakin sedikit. Sinden tradisional Jawa makin jarang ditemukan. Yang paling mengkhawatirkan adalah keberadaan dalang, sosok yang menjadi penggerak sekaligus narator utama dalam pertunjukan.
Padahal, tanpa dalang, pertunjukan Topeng Malangan kehilangan ruhnya. Tari tanpa cerita mungkin tetap indah dipandang, tetapi kosong dari pesan yang seharusnya diwariskan. Jika yang dijaga hanya tariannya, sementara unsur lain dibiarkan hilang, maka yang tersisa hanyalah kulit budaya, bukan isinya.
Dari sudut pandang Ibu Sol, ada hal sederhana tetapi sangat penting: anak-anak membutuhkan panggung. Mereka tidak cukup hanya berlatih, tetapi juga perlu kesempatan tampil, dilihat, dan diapresiasi.
Menurutnya, setiap ada pertunjukan atau festival budaya, semangat anak-anak untuk berlatih langsung meningkat. Mereka memiliki tujuan dan kebanggaan. Sebaliknya, jika latihan dilakukan terus-menerus tanpa ruang tampil, motivasi itu perlahan memudar.
Hal ini sesungguhnya berlaku di banyak bidang. Seseorang akan lebih bersemangat belajar ketika ada ruang untuk menunjukkan hasil usahanya. Karena itu, memperbanyak agenda pertunjukan budaya bukan sekadar meramaikan kalender acara daerah, melainkan menjadi cara konkret menjaga semangat generasi muda untuk tetap mencintai seni tradisi.
Kabar baiknya, menurut Ibu Sol, dalam beberapa tahun terakhir Topeng Malangan mulai kembali diminati. Tidak hanya oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak dan remaja. Bahkan, di sejumlah sekolah, kesenian ini telah masuk sebagai kegiatan ekstrakurikuler mulai tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.
Artinya, benih pelestarian itu masih ada. Tinggal bagaimana semua pihak benar-benar merawatnya secara serius, bukan sekadar menjadikannya program seremonial di atas kertas.
Topeng Malangan merupakan identitas budaya Kabupaten Malang yang telah dikenal hingga tingkat internasional. Namun, pengakuan dari luar tidak otomatis menjamin keberlangsungannya di dalam negeri. Masa depan seni tradisi ini justru sangat ditentukan oleh sejauh mana masyarakat Malang sendiri bersedia menjaga dan merawatnya.
Pak Handoyo dan Ibu Sol telah menunjukkan jalan masing-masing. Yang satu berinovasi dalam metode pembelajaran, sementara yang lain menjadi saksi hidup sekaligus penjaga ingatan budaya. Namun, dua orang saja tidak akan mampu menanggung seluruh beban pelestarian.
Pelestarian budaya bukan hanya tugas seniman atau pegiat seni. Ia merupakan tanggung jawab bersama—pemerintah daerah, sekolah, media, komunitas, hingga masyarakat yang merasa Malang adalah rumahnya.
Sebab, jika suatu hari Topeng Malangan benar-benar hilang, penyebabnya bukan karena tidak ada yang peduli. Melainkan karena kita terlambat menyadari bahwa kepedulian membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar kebanggaan yang diucapkan di bibir.
||* Mahasiswa Universitas Brawijaya
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


