Reporter: harianjatim
Malang-harianjatim.com. Aktivis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ismail, menyoroti model ceramah yang disampaikan Muhammad Abdul Ghufron atau yang dikenal sebagai Mama Ghufron. Menurut dia, sejumlah pernyataan yang disampaikan dalam berbagai ceramah figur tersebut telah memunculkan perdebatan di tengah masyarakat dan menjadi perhatian berbagai kalangan.
Ismail menilai dakwah semestinya disampaikan dengan berlandaskan ilmu, adab, dan tanggung jawab moral kepada umat. Karena itu, materi ceramah perlu merujuk pada sumber-sumber keagamaan yang jelas agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami ajaran Islam.
“Sebagai umat Islam, dakwah semestinya menjadi sarana pencerahan yang disampaikan dengan ilmu dan tanggung jawab. Penyampaian ajaran agama perlu didasarkan pada dalil dan pemahaman yang dapat dipertanggungjawabkan,” kata Ismail dalam keterangan tertulis, Senin, (1/6/2026).
Menurut dia, berbagai klaim yang bersifat sensasional dan sulit diverifikasi berpotensi menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan akses terhadap literatur dan kajian keislaman yang memadai.
Ia menegaskan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat harus diiringi tanggung jawab sosial, terlebih ketika berbicara mengenai persoalan agama yang dapat memengaruhi cara pandang dan pemahaman umat.
“Dakwah seharusnya menjadi ruang edukasi dan penguatan nilai-nilai keislaman, bukan sekadar menghadirkan kontroversi yang berpotensi menimbulkan kegaduhan di ruang publik,” ujarnya.
Ismail juga mengajak masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih sumber rujukan keagamaan. Menurut dia, umat perlu mengedepankan sikap tabayun dan kehati-hatian dalam menerima informasi yang berkaitan dengan ajaran agama.
“Masyarakat perlu kritis dalam memilih guru, ustaz, atau penceramah. Jangan hanya melihat popularitas atau gaya penyampaian, tetapi juga memperhatikan dasar keilmuan, akhlak, dan kredibilitasnya,” katanya.
Lebih lanjut, Ismail menilai pendekatan dakwah yang selama ini dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam besar di Indonesia dapat menjadi rujukan dalam membangun kehidupan beragama yang moderat, inklusif, dan menyejukkan.
Ia menyebut Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama secara konsisten mengedepankan dakwah yang berbasis ilmu, mengutamakan persatuan umat, serta menghormati keberagaman yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.
Menurut Ismail, perbedaan pandangan dalam persoalan keagamaan merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut perlu disampaikan secara ilmiah dan beretika, tanpa provokasi maupun pernyataan yang berpotensi menimbulkan konflik sosial.
“Dakwah yang baik adalah dakwah yang menghadirkan pencerahan, memperkuat akhlak, serta mempererat persaudaraan umat dan bangsa. Dengan cara itu, mimbar dakwah dapat menjadi sarana membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan menjunjung tinggi persatuan,” ujarnya.
Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh tanggapan dari Muhammad Abdul Ghufron terkait pandangan yang disampaikan Ismail. Redaksi membuka ruang klarifikasi apabila yang bersangkutan ingin memberikan penjelasan atau tanggapan.
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


