Sesar Surabaya-Madura: Data Sudah Ada, Kesiapsiagaan Jangan Ditunda

  • Bagikan
Ilustrasi Gempa Bumi. (foto: Ist)

|| Penulis: Sapa Redaksi*

Kembali ramainya informasi mengenai Sesar Surabaya-Madura semestinya tidak membuat masyarakat panik. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membaca data secara jernih dan menerjemahkannya menjadi kesiapsiagaan menghadapi risiko gempa di Jawa Timur.

Informasi mengenai sesar aktif di kawasan Surabaya dan Madura kembali menjadi perhatian publik. Di media sosial, pembahasan mengenai patahan aktif, potensi gempa, hingga angka magnitudo tertentu beredar luas.

Fenomena ini menunjukkan dua hal. Perhatian masyarakat terhadap keselamatan semakin besar, tetapi pada saat yang sama literasi kebencanaan masih menjadi pekerjaan rumah.

Informasi ilmiah yang bersifat teknis dapat dengan mudah berubah menjadi kesimpulan sederhana: keberadaan sesar aktif dianggap sebagai tanda bahwa gempa besar akan segera terjadi.

Kesimpulan semacam itu tidak tepat.

Sesar Aktif Bukan Ramalan Gempa

Berdasarkan penjelasan BMKG, sesar di Surabaya bukan patahan yang baru terbentuk. Pemutakhiran data geologi, geofisika, dan geodesi yang dipublikasikan Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGen) pada 2017 dan 2024 mengidentifikasi struktur tersebut sebagai bagian dari sistem Sesar Kendeng yang aktif. Di Surabaya, terdapat dua segmen yang disebut Segmen Surabaya dan Segmen Waru.

Data PuSGen 2024 yang disampaikan BMKG juga mencantumkan magnitudo maksimum 6,7 untuk Segmen Surabaya dan 6,8 untuk Segmen Waru. Pergerakan yang disebutkan masing-masing sekitar 0,5 milimeter per tahun dan 1 milimeter per tahun.

Angka tersebut penting untuk dipahami secara tepat.

M6,7 dan M6,8 bukan ramalan bahwa gempa dengan kekuatan tersebut akan terjadi dalam waktu dekat.

Angka itu merupakan bagian dari karakterisasi sumber gempa dalam kajian. Waktu terjadinya gempa bumi tidak dapat ditentukan secara tepat.

Karena itu, potensi bukan prediksi.

Kesalahan memahami dua istilah tersebut dapat menghasilkan dua ekstrem yang sama-sama berbahaya: kepanikan di satu sisi dan sikap meremehkan risiko di sisi lain.

Yang dibutuhkan adalah kewaspadaan yang berbasis data.

Sejarah Mengingatkan, Risiko Itu Nyata

Tidak panik bukan berarti mengabaikan risiko.

Sejarah kegempaan menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki pengalaman dengan gempa yang berkaitan dengan aktivitas sesar. Catatan historis yang digunakan dalam kajian kegempaan menunjukkan sejumlah kejadian di sepanjang zona Kendeng dan wilayah sekitarnya.

Catatan sejarah tersebut memberi pesan penting: risiko kegempaan bukan sesuatu yang sepenuhnya hipotetis.

Namun sejarah juga tidak dapat digunakan untuk menentukan kapan gempa berikutnya akan terjadi.

Karena itu, pertanyaan yang lebih produktif bukanlah kapan gempa besar akan datang, melainkan seberapa siap kita ketika gempa terjadi.

Madura Tidak Boleh Diabaikan

Pembahasan Sesar Surabaya-Madura juga harus memberi ruang yang cukup bagi Madura.

Dalam penjelasan BMKG mengenai kegempaan kawasan tersebut, Madura dikaitkan dengan zona Sesar RMKS atau Rembang-Madura-Kangean-Sakala. Artinya, pembicaraan mengenai risiko gempa tidak seharusnya hanya berpusat pada Surabaya.

Madura memiliki masyarakat, permukiman, fasilitas publik, infrastruktur dan pusat-pusat aktivitas ekonomi yang juga perlu diperhitungkan dalam strategi mitigasi.

Catatan BMKG juga menunjukkan bahwa Madura pernah mengalami gempa yang berkaitan dengan aktivitas sesar.

Pada 20 Februari 2017, misalnya, BMKG mencatat gempa berkekuatan M3,7 yang berpusat di darat sekitar 18 kilometer sebelah barat Sampang, dengan kedalaman 10 kilometer. Analisis BMKG saat itu menyebut gempa dangkal tersebut dipicu aktivitas sesar aktif.

Gempa tersebut tidak dilaporkan menimbulkan kerusakan bangunan.

Peristiwa itu bukan alasan untuk menakut-nakuti masyarakat Madura. Sebaliknya, ia menjadi pengingat bahwa pengetahuan mengenai risiko perlu dibangun sebelum bencana terjadi.

Yang Perlu Diperiksa Bukan Hanya Sesarnya

Pembicaraan tentang Sesar Surabaya-Madura tidak boleh berhenti pada peta patahan dan angka magnitudo.

Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana kesiapan wilayah di sekitar sumber gempa.

Bagaimana kondisi bangunan sekolah?

Bagaimana kesiapan rumah sakit?

Apakah fasilitas publik memiliki prosedur evakuasi?

Apakah masyarakat mengetahui tempat aman?

Apakah pemerintah daerah memiliki skenario jika jaringan listrik, komunikasi, jalan, atau layanan kesehatan terganggu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui nama sebuah sesar.

Menurut BMKG, jika terjadi gempa dengan skenario maksimum pada segmen yang dibahas, intensitas guncangan dapat mencapai VI-VIII MMI. Tingkat intensitas tersebut berpotensi menimbulkan kerusakan ringan hingga sedang pada bangunan tahan gempa dan kerusakan lebih berat pada bangunan biasa atau bangunan tanpa struktur yang memadai.

Di sinilah kualitas bangunan menjadi bagian penting dari mitigasi.

Gempa tidak otomatis menjadi bencana besar. Dampaknya sangat dipengaruhi oleh tingkat kerentanan masyarakat, kualitas bangunan, tata ruang, dan kesiapan sistem tanggap darurat.

Kesiapsiagaan Jangan Menunggu Gempa

Pemerintah Kota Surabaya pada 10 September 2026 menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik mengenai keberadaan sesar aktif. Namun masyarakat diminta memahami risiko dan meningkatkan kesiapsiagaan.

Pesannya sederhana: tenang, tetapi siap.

Kesiapsiagaan tidak boleh mengikuti siklus pemberitaan.

Ketika gempa terjadi, masyarakat baru ramai membicarakan mitigasi. Ketika sesar menjadi viral, simulasi dan edukasi kembali mendapat perhatian. Setelah isu menghilang, perhatian pun ikut mereda.

Pola tersebut harus dihentikan.

Sekolah perlu melakukan simulasi secara berkala. Pengelola gedung harus memastikan jalur evakuasi dapat digunakan. Rumah sakit membutuhkan skenario kedaruratan. Pemerintah daerah harus memastikan sistem komunikasi dan tanggap bencana berjalan.

Masyarakat pun harus mengetahui tindakan dasar ketika gempa terjadi.

BMKG dan BPBD Surabaya mengingatkan prinsip drop, cover, hold on—menunduk, melindungi kepala dan tubuh, berlindung di bawah meja yang kokoh bila tersedia, serta berpegangan sampai guncangan berhenti. Masyarakat juga perlu mengenali jalur evakuasi dan titik kumpul.

Pengetahuan tersebut tidak boleh baru dicari ketika tanah sudah berguncang.

Jangan Kalah oleh Informasi Viral

Ada tantangan lain yang tidak kalah penting: banjir informasi di media sosial.

Potongan video, infografik, pesan berantai, dan judul sensasional dapat membuat informasi ilmiah kehilangan konteks.

Satu angka magnitudo dapat menjadi sumber kepanikan ketika disajikan tanpa penjelasan.

Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa informasi melalui sumber resmi seperti BMKG dan BPBD.

Pemerintah juga memiliki tanggung jawab yang sama besar. Informasi kebencanaan harus disampaikan secara cepat, terbuka, konsisten, dan mudah dipahami.

Jangan memberikan rasa aman palsu.

Tetapi jangan pula menyampaikan risiko dengan cara yang menakut-nakuti.

Masyarakat membutuhkan informasi yang proporsional: risikonya ada, waktunya tidak dapat dipastikan, dan dampaknya dapat dikurangi dengan kesiapsiagaan.

Saatnya Mengubah Cara Pandang

Isu Sesar Surabaya-Madura pada akhirnya bukan hanya persoalan geologi.

Ia adalah ujian terhadap cara kita membangun budaya keselamatan.

Indonesia berada di kawasan tektonik aktif. Kita tidak dapat menghilangkan sesar, menghentikan pergerakan lempeng, atau menentukan kapan bumi akan melepaskan energinya.

Tetapi kita dapat mengurangi kerentanan.

Bangunan dapat dibuat lebih aman. Tata ruang dapat diperbaiki. Sekolah dapat rutin melakukan simulasi. Rumah sakit dapat menyiapkan skenario kedaruratan. Jalur evakuasi dapat dipastikan berfungsi. Pemerintah dapat memperkuat sistem komunikasi bencana.

Dan masyarakat dapat belajar untuk tidak panik.

Karena itu, ketika informasi mengenai Sesar Surabaya-Madura kembali ramai, jangan berhenti pada pertanyaan mengenai seberapa besar gempa yang mungkin terjadi.

Ajukan pertanyaan yang lebih penting:

Seberapa siap kita jika gempa benar-benar terjadi?

Sebab kita tidak dapat menentukan kapan bumi bergerak.

Kita tidak dapat memprediksi hari dan jam gempa.

Tetapi kita masih memiliki pilihan untuk menentukan apakah ketika gempa datang, kita berada dalam kondisi siap atau justru sama-sama kebingungan.

Sesar adalah fakta geologi. Kesiapsiagaan adalah pilihan. Dan pilihan itu tidak perlu menunggu gempa terjadi.


||* Tim Kreator HarianJatim.Com


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90