Krakatau 1883 dan Lahirnya Anak Krakatau, Kisah Gunung Api yang Tak Pernah Usai

  • Bagikan
Gunung anak Krakatau. (foto: wikipedia)

Nama Krakatau tidak pernah lepas dari salah satu letusan gunung api paling dahsyat dalam sejarah modern. Letusan pada 1883 tidak hanya menghancurkan sebagian besar tubuh gunung, tetapi juga memicu tsunami yang menewaskan puluhan ribu orang di pesisir Jawa dan Sumatra.

Namun, sejarah Krakatau tidak berhenti pada bencana tersebut. Dari kawasan kaldera yang terbentuk setelah letusan besar itu, muncul gunung api baru yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.

Hingga 2026, aktivitas vulkanik di kawasan tersebut masih berlangsung dan terus dipantau oleh otoritas kebencanaan dan vulkanologi.

Krakatau sebelum 1883

Krakatau berada di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Kawasan ini merupakan bagian dari jalur gunung api aktif akibat pertemuan lempeng tektonik.

Jauh sebelum letusan 1883, kawasan Krakatau telah mengalami aktivitas vulkanik besar. Sejumlah penelitian memperkirakan pernah terjadi letusan besar yang menyebabkan terbentuknya kaldera pada masa lampau.

Dalam perkembangan berikutnya, sejumlah kerucut gunung api tumbuh di kawasan tersebut, antara lain Rakata, Danan, dan Perbuwatan. Ketiganya kemudian membentuk kompleks Pulau Krakatau yang dikenal sebelum bencana 1883.

Letusan 1883

Aktivitas Krakatau mulai meningkat pada Mei 1883. Puncaknya terjadi pada 26 hingga 27 Agustus 1883.

Serangkaian ledakan besar menghancurkan sebagian besar tubuh gunung. Material vulkanik tersebar ke atmosfer, sementara runtuhnya tubuh gunung ke laut memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung.

Lebih dari 36.000 orang dilaporkan meninggal dunia, dengan tsunami menjadi salah satu penyebab utama korban.

Letusan Krakatau juga tercatat menimbulkan dampak atmosferik hingga berbagai wilayah dunia. Suara ledakannya terdengar dari jarak ribuan kilometer, sedangkan material vulkanik yang masuk ke atmosfer memengaruhi kondisi langit dan warna matahari terbenam di berbagai tempat.

Dampak tersebut membuat letusan Krakatau 1883 menjadi salah satu peristiwa vulkanik yang paling banyak dicatat dalam sejarah.

Setelah Krakatau runtuh

Setelah letusan besar tersebut, sebagian besar tubuh Krakatau hilang dan kawasan tersebut berubah menjadi kaldera.

Namun, aktivitas magma di bawah kawasan itu tidak berhenti.

Pada akhir 1927, aktivitas vulkanik baru mulai muncul dari kawasan kaldera. Material erupsi secara bertahap membangun sebuah kerucut baru dari dasar laut.

Pada Januari 1928, kerucut tersebut mulai muncul ke permukaan.

Gunung api baru itu kemudian dikenal dengan nama Anak Krakatau.

Nama tersebut bukan berarti Krakatau memiliki “keturunan” secara biologis. Secara geologi, Anak Krakatau merupakan kerucut gunung api baru yang tumbuh di dalam kawasan kaldera yang terbentuk setelah letusan 1883.

Anak Krakatau terus tumbuh

Sejak muncul ke permukaan, Anak Krakatau mengalami erupsi berulang. Material lava, abu, dan batuan vulkanik yang keluar dari kawah secara perlahan membentuk dan memperbesar tubuh gunung.

Aktivitas tersebut berlangsung selama puluhan tahun. Anak Krakatau kemudian menjadi salah satu gunung api yang mendapat perhatian khusus karena berada di tengah Selat Sunda dan memiliki sejarah aktivitas vulkanik yang panjang.

Erupsi 2018 dan tsunami Selat Sunda

Salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Anak Krakatau terjadi pada 22 Desember 2018.

Sebelumnya, aktivitas erupsi telah meningkat sejak pertengahan tahun. Pada Desember 2018, sebagian tubuh Anak Krakatau mengalami longsoran ke laut.

Runtuhan tersebut memicu tsunami yang kemudian menerjang pesisir Banten dan Lampung.

Peristiwa ini menewaskan ratusan orang dan menyebabkan ribuan lainnya terdampak. Tsunami 2018 juga menjadi pengingat bahwa ancaman gunung api di kawasan pesisir tidak hanya berasal dari lava dan abu, tetapi juga dari kemungkinan runtuhnya material gunung ke laut.

Setelah kejadian tersebut, bentuk Anak Krakatau berubah secara signifikan. Sebagian tubuh gunung yang sebelumnya telah tumbuh selama puluhan tahun runtuh dan masuk ke laut.

Gunung yang kembali tumbuh

Meski sebagian tubuhnya runtuh, aktivitas vulkanik Anak Krakatau tidak berhenti.

Erupsi kembali berlangsung dalam beberapa periode setelah 2018. Material baru terus keluar dari kawah dan secara perlahan membangun kembali tubuh gunung.

Aktivitas erupsi tercatat berlanjut hingga 2020 dan kembali terjadi pada periode berikutnya, termasuk pada 2021, 2022 dan 2023.

Badan Geologi mencatat bahwa rangkaian erupsi berskala rendah berlangsung hingga 16 Desember 2023. Namun, aktivitas vulkanik Anak Krakatau tetap menjadi objek pemantauan.

Pada 2 dan 3 Juli 2026, Badan Geologi juga mencatat dua kejadian erupsi di Anak Krakatau.

Artinya, pada 2026 Anak Krakatau masih merupakan gunung api aktif.

Mitos yang berkembang di tengah masyarakat

Sejarah Krakatau juga berkembang dalam berbagai cerita masyarakat.

Setelah bencana 1883, muncul sejumlah tafsir yang menghubungkan letusan dengan hukuman Tuhan atau akibat pelanggaran moral. Ada pula cerita yang mengaitkan bencana dengan sebuah pesta di wilayah Banten.

Cerita-cerita tersebut merupakan bagian dari sejarah sosial masyarakat dalam memahami bencana besar pada masa ketika ilmu vulkanologi belum berkembang seperti sekarang.

Secara ilmiah, tidak terdapat bukti bahwa pesta atau perilaku manusia tertentu menyebabkan letusan Krakatau.

Demikian pula, istilah Anak Krakatau tidak perlu dimaknai secara harfiah sebagai “anak” dari Gunung Krakatau. Istilah tersebut merupakan sebutan untuk kerucut vulkanik baru yang tumbuh di kawasan kaldera Krakatau.

Krakatau dan pelajaran dari masa lalu

Krakatau menunjukkan bahwa aktivitas gunung api dapat berlangsung dalam siklus yang panjang.

Letusan besar pada 1883 menghancurkan sebagian besar tubuh gunung. Namun, aktivitas magma kemudian membangun gunung baru yang dikenal sebagai Anak Krakatau.

Peristiwa 2018 kembali menunjukkan bahwa ancaman dari kawasan gunung api di laut memiliki karakter berbeda. Longsoran tubuh gunung dapat memicu tsunami meski tidak didahului gempa tektonik besar.

Karena itu, sejarah Krakatau bukan hanya cerita tentang letusan dahsyat masa lalu. Ia juga menjadi pengingat pentingnya pemantauan gunung api, sistem peringatan dini, kesiapsiagaan masyarakat pesisir, dan literasi kebencanaan.

Pada 2026, Anak Krakatau masih berdiri di Selat Sunda. Tubuhnya mungkin berubah dari waktu ke waktu, tetapi aktivitas vulkaniknya menunjukkan bahwa kisah Krakatau belum berakhir.


Diolah dari berbagai sumber


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google  News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90