Reporter: harianjatim
Malang-harianjatim.com. Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) atau panti asuhan Muhammadiyah didorong mengembangkan unit usaha produktif untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan menjaga keberlanjutan pelayanan sosial.
Selama ini, sebagian lembaga sosial masih mengandalkan bantuan dan donasi untuk membiayai operasional. Padahal, pengembangan usaha yang dikelola secara profesional dapat menjadi sumber pendapatan alternatif sekaligus sarana pemberdayaan anak asuh.
Hal tersebut disampaikan Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, drh. Zainul Muslimin, dalam Workshop Socioentrepreneurship yang diselenggarakan Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PWM Jawa Timur, Jumat-Sabtu (30-31/10/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Universitas Muhammadiyah Malang.
Dalam pemaparannya, Zainul menekankan perlunya perubahan paradigma pengelolaan LKSA. Menurut dia, lembaga sosial perlu bertransformasi dari pola charity-based yang bergantung pada donasi menuju model social enterprise yang mampu membangun kemandirian finansial.
Dengan pendekatan tersebut, LKSA tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelayanan dan pengasuhan anak, tetapi juga dapat berkembang menjadi pusat pemberdayaan ekonomi, inkubasi bisnis, dan pengembangan keterampilan kewirausahaan.
Zainul menjelaskan, lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah memiliki potensi pasar yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan usaha LKSA.
Salah satunya melalui integrasi rantai pasok internal atau captive market. Produk dan jasa yang dihasilkan unit usaha LKSA berpeluang dipasarkan kepada berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan perkantoran dan kegiatan Persyarikatan.
Menurut dia, peluang tersebut perlu dimanfaatkan agar usaha sosial tidak hanya menghasilkan pendapatan bagi lembaga, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi anak asuh.
Melalui kegiatan usaha produktif, anak asuh dapat memperoleh pengalaman kerja, keterampilan, dan pengetahuan kewirausahaan sebagai bekal ketika menyelesaikan masa pengasuhan.
Selain membahas strategi pengembangan usaha, workshop tersebut juga memberikan ruang bagi peserta untuk merancang dan mengimplementasikan gagasan bisnis sosial.
Peserta tidak hanya mendapatkan materi penyusunan blueprint bisnis, tetapi juga diperkenalkan dengan peluang dukungan permodalan. Materi pembiayaan disampaikan Direktur BPRS ARSA Sejahtera UMM, Sri Astutik, yang memaparkan sejumlah alternatif skema pendanaan untuk pengembangan usaha sosial.
Pembahasan mengenai permodalan tersebut diharapkan dapat menjembatani gagasan bisnis yang dirancang peserta dengan realisasi usaha di masing-masing lembaga.
Dengan demikian, peserta tidak hanya memahami strategi membangun bisnis sosial yang potensial, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai akses pembiayaan yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha.
Melalui workshop ini, MPKS PWM Jawa Timur berharap semakin banyak LKSA dan Amal Usaha Muhammadiyah Sosial (AUMSOS) yang mampu mengembangkan unit usaha secara profesional dan berkelanjutan.
Upaya tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat kapasitas ekonomi lembaga, tetapi juga membangun ekosistem pemberdayaan yang mendorong kemandirian, produktivitas, dan keberlanjutan pelayanan sosial.
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.
(Rls/Red)


