|| Penulis: Sapa Redaksi*
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional seharusnya tidak berhenti sebagai agenda seremonial yang datang dan pergi setiap tahun. Momentum 20 Mei semestinya menjadi ruang refleksi bersama untuk melihat lebih jernih kondisi bangsa hari ini: sejauh mana semangat kebangkitan benar-benar hidup dalam praktik kehidupan publik.
Indonesia memang terus bergerak maju dalam berbagai bidang. Infrastruktur tumbuh di banyak daerah, teknologi berkembang pesat, dan demokrasi berjalan semakin terbuka. Namun, di balik berbagai capaian tersebut, bangsa ini masih menghadapi persoalan mendasar yang tidak kalah serius: krisis moral publik.
Korupsi masih bermunculan di berbagai level kekuasaan. Penyalahgunaan kewenangan terus berulang. Politik kerap dipenuhi kompromi kepentingan yang menjauh dari semangat pelayanan kepada rakyat. Sementara birokrasi, yang seharusnya hadir sebagai alat pelayanan publik, dalam banyak situasi justru terjebak dalam budaya formalitas dan kekuasaan.
Kondisi itu perlahan melahirkan kelelahan sosial di tengah masyarakat. Publik semakin akrab dengan rasa kecewa terhadap institusi. Ketika penyimpangan terus terjadi dan keteladanan terasa langka, kepercayaan masyarakat pun perlahan terkikis.
Padahal, bangsa tidak hanya dibangun melalui pertumbuhan ekonomi atau proyek pembangunan fisik. Negara akan berdiri kokoh apabila ditopang oleh moralitas publik yang sehat, kejujuran dalam penyelenggaraan kekuasaan, serta etika yang dijaga bersama.
Dalam konteks itu, kebangkitan nasional hari ini tidak lagi cukup dimaknai sebagai romantisme perjuangan melawan penjajahan. Tantangan bangsa saat ini jauh lebih kompleks. Indonesia membutuhkan keberanian untuk bangkit dari krisis moral yang menggerogoti kehidupan publik dari dalam.
Fenomena politik anggaran, polemik dana aspirasi, hingga praktik birokrasi yang kehilangan sensitivitas pelayanan menjadi contoh bagaimana integritas sering kali diuji oleh kepentingan kekuasaan. Jabatan publik yang semestinya dipahami sebagai amanah pelayanan, dalam sejumlah situasi justru dipandang sebagai ruang privilese dan transaksi pengaruh.
Di tengah situasi seperti itu, masyarakat sesungguhnya sedang merindukan keteladanan. Rakyat membutuhkan pemimpin yang tidak sekadar pandai berbicara tentang nasionalisme, tetapi juga mampu menunjukkan keberpihakan nyata kepada kepentingan publik. Sebab moralitas tidak lahir dari slogan, melainkan dari konsistensi tindakan.
Sejarah kebangkitan nasional dahulu dibangun oleh kesadaran kolektif untuk melawan ketidakadilan dan keterbelakangan. Para pendiri bangsa memahami bahwa kemajuan hanya dapat dicapai apabila bangsa ini memiliki keberanian menjaga martabat dan nilai-nilai moral dalam kehidupan bersama.
Karena itu, ancaman terbesar Indonesia hari ini bukan hanya tekanan ekonomi global atau persaingan geopolitik internasional. Ancaman yang lebih berbahaya justru ketika masyarakat mulai kehilangan sensitivitas terhadap penyimpangan yang terjadi di sekitarnya. Ketika korupsi dianggap lumrah. Ketika manipulasi dipandang biasa. Dan ketika kejujuran terasa asing dalam ruang publik.
Momentum Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar pembangunan dilakukan, tetapi juga oleh seberapa kuat moralitas dijaga dalam kehidupan bernegara.
Sebab tanpa integritas, kemajuan hanya akan melahirkan kemewahan yang rapuh.
Dan tanpa moral publik yang sehat, kebangkitan hanyalah slogan yang kehilangan makna.
||* Tim Kreator HarianJatim.Com
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


