|| Penulis: Maydagna Kanna Beutary- Margaretha Erlita Suci- Maitsa Afiyah Huwaida- Nadia Agustin- Nisa Azahra Hidayat*
Peran pendidikan dalam membentuk karakter generasi muda yang toleran dan inklusif menjadi isu yang semakin penting di tengah meningkatnya berbagai kasus intoleransi, baik di lingkungan pendidikan maupun di masyarakat. Kesadaran akan pentingnya menghargai keberagaman perlu ditanamkan sejak dini agar generasi muda mampu hidup berdampingan secara harmonis dalam masyarakat yang majemuk. Oleh karena itu, penelitian mengenai persepsi mahasiswa terhadap peran pendidikan dalam mengurangi intoleransi menjadi relevan untuk dilakukan.
Penelitian yang dilakukan terhadap mahasiswa Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya angkatan 2025 ini bertujuan mengkaji bagaimana pendidikan, baik melalui kurikulum maupun lingkungan kampus, berkontribusi dalam membentuk sikap toleransi mahasiswa. Sebagai bagian dari tugas Mata Kuliah Pancasila Akademik, penelitian ini berupaya memberikan gambaran mengenai pemahaman dan respons mahasiswa terhadap isu keberagaman yang saat ini menjadi perhatian berbagai kalangan.
Pada hakikatnya, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter dan penanaman nilai-nilai sosial. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai toleransi, menghormati perbedaan, serta memperkuat semangat persatuan. Namun, berbagai kasus intoleransi yang masih terjadi menunjukkan bahwa implementasi nilai-nilai tersebut belum sepenuhnya berjalan secara optimal.
Penelitian ini dilaksanakan pada April 2026 di Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Responden penelitian terdiri atas mahasiswa angkatan 2025 yang berusia sekitar 18 hingga 19 tahun. Kelompok usia ini dipilih karena berada pada fase penting dalam pembentukan identitas diri dan sikap sosial. Selain itu, lingkungan kampus yang multikultural menjadi ruang yang tepat untuk mengamati bagaimana pendidikan memengaruhi pandangan mahasiswa terhadap keberagaman.
Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, data penelitian dikumpulkan melalui kuesioner digital yang menggunakan skala Likert. Instrumen tersebut digunakan untuk mengukur tingkat persetujuan mahasiswa terhadap berbagai pernyataan yang berkaitan dengan toleransi, keberagaman, dan peran pendidikan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk diagram guna memudahkan interpretasi hasil penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki tingkat pemahaman yang tinggi mengenai pentingnya toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman. Rata-rata skor yang diperoleh mendekati angka 4,8 dari skala 5, yang menunjukkan tingkat persetujuan sangat tinggi terhadap nilai-nilai toleransi. Mahasiswa pada umumnya menyatakan bahwa perbedaan suku, agama, budaya, maupun latar belakang sosial bukanlah hambatan untuk menjalin hubungan yang baik di lingkungan kampus.
Meski demikian, penelitian ini juga menemukan bahwa efektivitas program kampus dalam menanamkan nilai toleransi masih dinilai belum optimal. Sebagian mahasiswa berpendapat bahwa kesadaran untuk bersikap toleran lebih banyak terbentuk melalui pemahaman pribadi dan pengalaman sosial dibandingkan melalui program atau kegiatan kampus yang secara khusus dirancang untuk memperkuat nilai-nilai keberagaman.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tetap memiliki peran yang sangat penting dalam mengurangi intoleransi di kalangan generasi muda. Namun, keberhasilan pendidikan dalam membentuk karakter yang toleran memerlukan dukungan yang lebih kuat melalui kurikulum yang inklusif, peran aktif dosen sebagai teladan, serta penyediaan ruang dialog yang mendorong interaksi antarmahasiswa dengan latar belakang yang beragam.
Pada akhirnya, penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan merupakan salah satu instrumen utama dalam membangun masyarakat yang harmonis dan menghargai keberagaman. Dengan memperkuat internalisasi nilai-nilai toleransi dalam seluruh aspek kehidupan kampus, diharapkan generasi muda dapat tumbuh menjadi individu yang lebih inklusif, terbuka, serta mampu menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman yang menjadi identitas Indonesia.
Pendidikan yang berhasil bukan hanya mencetak individu yang cerdas secara akademik, tetapi juga melahirkan warga negara yang mampu menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Dalam konteks tersebut, pendidikan memiliki peran yang tidak tergantikan sebagai fondasi utama dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai, adil, dan harmonis.
||* Atikel ditulis secara kolektif oleh mahasiswa Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya.
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


