|| Penulis : Della Chintya Simanjuntak
Di tengah derasnya arus modernisasi, ada satu keyakinan yang patut terus dijaga oleh generasi penerus seni tradisi: budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan cermin kebijaksanaan yang tetap relevan hingga hari ini. Salah satu buktinya dapat ditemukan dalam Tari Topeng Malangan, warisan budaya yang masih bertahan di tengah perubahan zaman.
Handoyo, generasi kelima penjaga tradisi Tari Topeng Malangan, menegaskan bahwa seni ini bukan semata-mata hiburan. Tari Topeng Malangan merupakan media pembelajaran hidup yang diwujudkan melalui gerak, irama, dan cerita. Dalam setiap lakonnya tersimpan nilai-nilai yang dapat menjadi pedoman bagi masyarakat.
Salah satu contohnya adalah lakon Pagemblung, kisah dalam koleksi topeng yang menggambarkan cara masyarakat menghadapi wabah. Ketika pandemi melanda beberapa tahun lalu, nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut kembali menemukan relevansinya. Fakta ini menunjukkan bahwa seni tradisi tidak hanya menyimpan kenangan masa lalu, tetapi juga mengandung kearifan yang tetap dapat diterapkan dalam kehidupan masa kini.
Adaptasi Bukan Pengkhianatan
Salah satu persoalan yang kerap muncul dalam upaya pelestarian budaya adalah batas antara adaptasi dan distorsi. Apakah menyederhanakan pertunjukan Wayang Topeng yang semula berlangsung selama sembilan hingga sepuluh jam menjadi sekitar 15 menit dapat dianggap sebagai pengkhianatan terhadap pakem leluhur?
Handoyo menjawab pertanyaan itu dengan pandangan yang pragmatis. Menurutnya, tujuan utama pertunjukan saat ini adalah memperkenalkan budaya kepada masyarakat yang lebih luas.
Penonton yang merasa bosan dan meninggalkan pertunjukan tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk mencintai kesenian tersebut. Karena itu, durasi dipersingkat, bahasa disesuaikan dengan audiens, bahkan dapat disampaikan dalam bahasa asing ketika penontonnya merupakan wisatawan mancanegara.
Adaptasi semacam ini bukan bentuk pelemahan tradisi, melainkan strategi untuk memperluas jangkauan. Sebab, kesenian yang hanya dapat dinikmati oleh mereka yang sudah memahami seluruh pakemnya lambat laun akan menjadi milik segelintir orang dan berisiko hilang bersama generasi yang menjaganya.
Metode Baru untuk Generasi Baru
Perubahan juga terjadi dalam metode pembelajaran Tari Topeng Malangan. Jika dahulu para penari pemula langsung dihadapkan pada materi tingkat tinggi, pendekatan tersebut kini dianggap kurang relevan bagi generasi muda.
Handoyo menjelaskan bahwa proses pembelajaran dibagi ke dalam tiga tahap. Pertama, Wiroko, yaitu penguasaan bentuk gerak dan kesesuaian dengan irama. Kedua, Wiromo, yakni kemampuan memahami hitungan dan tempo secara tepat. Ketiga, Wiroso, tahap penghayatan mendalam hingga penari mampu menyatu dengan karakter yang diperankannya.
Ketiga tahapan tersebut bukan sekadar pembagian kurikulum. Di dalamnya tersimpan pemahaman mengenai proses belajar manusia, yaitu bergerak dari hal yang konkret menuju yang abstrak, dari kemampuan teknis menuju pemaknaan yang lebih mendalam.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak berarti membekukan cara lama, melainkan memastikan nilai dan esensinya tetap hidup serta dapat dipahami oleh generasi baru.
Generasi Muda dan Tanggung Jawab Kebudayaan
Peran generasi muda menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan budaya. Salah satunya ditunjukkan oleh Syafiih, penari muda yang telah mencintai Tari Topeng Malangan sejak kecil.
Baginya, daya tarik kesenian ini tidak hanya terletak pada keindahan geraknya, tetapi juga pada sifatnya yang inklusif. Tari Topeng Malangan terbuka bagi siapa saja tanpa memandang gender. Dalam konteks masyarakat yang semakin menaruh perhatian pada kesetaraan, nilai tersebut menjadi bukti bahwa tradisi sering kali lebih progresif daripada yang dibayangkan.
Syafiih juga mengakui bahwa mempelajari Tari Topeng Malangan bukan perkara mudah. Penari harus menghafal beragam gerakan sekaligus memahami ketukan yang berbeda pada setiap tarian. Namun, tantangan tersebut tidak membuatnya menyerah.
Sebaliknya, ia aktif memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan kesenian ini kepada generasi muda. Melalui konten-konten kreatif, budaya tradisional hadir dalam format yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari anak muda.
Teknologi sebagai Jembatan
Baik Handoyo maupun Syafiih memiliki pandangan yang sama mengenai teknologi. Bagi mereka, media sosial dan platform digital bukan ancaman bagi tradisi, melainkan jembatan yang menghubungkan budaya dengan khalayak yang lebih luas.
Video latihan yang dibagikan secara daring memungkinkan anggota sanggar tetap belajar meski tidak hadir secara langsung. Sementara itu, konten kreatif di media sosial membuka peluang bagi masyarakat yang sebelumnya tidak mengenal Tari Topeng Malangan untuk mulai tertarik mempelajarinya.
Pelajaran penting yang dapat dipetik adalah bahwa perkembangan teknologi tidak perlu ditakuti. Yang harus dijaga adalah nilai, makna, dan substansi budaya itu sendiri, bukan semata-mata bentuk penyampaiannya.
Di akhir perbincangan, Handoyo menyampaikan harapan sederhana namun sarat makna. Ia berharap anak-anak Indonesia mau mengenal budayanya sendiri sebelum mengenal budaya asing.
Harapan itu bukan ajakan untuk menolak modernitas atau menutup diri dari dunia luar. Sebaliknya, itu merupakan pengingat bahwa keterbukaan terhadap budaya global akan lebih bermakna apabila diawali dengan pemahaman terhadap akar budaya sendiri.
Pada akhirnya, Tari Topeng Malangan bukan hanya tentang topeng dan gerak tari. Ia adalah cara sebuah komunitas memahami dirinya, mewariskan kebijaksanaan, dan menjaga identitasnya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. Selama masih ada generasi yang bersedia menjaga dan mewarisinya, harapan itu akan terus menyala dan tidak mudah padam.

||* mahasiswa Universitas Brawijaya
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


