Oleh: Andini Ismarni Wati*
Di kehidupan sekarang terasa semakin ramai, bukan hanya suara manusia, tetapi oleh tuntutan, dan ekspetasi yang datang dari berbagai arah. Kita hidup di tengah riuh infromasi yang tak pernah benar-benar berhenti dari notifikasi ponsel, tren media sosial, standar kesuksesan, hingga opini orang lain tentang bagaimana seharusnya kita hidup. Di tengah keramaian itu, banyak dari kita terutama generasi muda merasa kehilangan arah. Bukan karena tidak memiliki tujuan, tetapi karena terlalu banyak arah yang datang secara bersamaan.Dalam kondisi seperti ini, hati menjadi lelah, pikiran penuh kebingungan, dan jiwa terasa jauh dari ketenangan. Kegelisahan semacam ini sebagai tanda bawha manusia perlu kembali menata hubungan antara dirinya, dunia, dan Tuhan yang maha esa.
Media sosial kini, menjadi salah satu penyumbang terbesar kebisingan hidup. Kita menyaksikan cuplikan kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses, lebih bahagia, dan lebih terarah. Tanpa kita sadar, kita mulai membandingkan proses hidup sendiri denga napa yang terlihat di layar. Perbandingan seperti ini sering kali menjauhkan manusia dari syukur dan tidak kepuasan terhadap apa yang dia miliki. Padahal, manusia diciptakan dengan jalan hidup dan ujian yang berbeda-beda. Ketika kita terlalu sibuk melihat perjalanan orang lain, kita lupa memperhatikan langkah sendiri, hingga arah hidup terasa kabur.
Di era modern, kecepatan sering dianggap sebagai tolak ukur keberhasilan. Siapa yang paling cepat mencapai sesuatu, dialah yang dianggap menang dan benar. Pada hakikatnya hidup bukan tentang perlombaan yang ada menang atau kalahnya melainkan hidup adalah perjalanan. Dunia yang ramai mendorong kita untuk segera sampai, sementara kita diajarkan pentingnya berjalan dengan sabar dan penuh kesadaran. Dalam kondisi kehilangan arah tidak perlu untuk menjauh dari dunia, tetapi mengajaknya menata kembali prioritasnya.Ada konsep membersihkan jiwa yang mengajarkan pentingnya hening di tengah keramaian. Shalat, doa, dan dzikir menjadi ruang sunyi tempat manusia Kembali mengingat tujuan hidupnya, dengarkan suara batin yang terhubung dengan Sang Pencipta.Dari sanalah arah sering kali menjadi lebih jelas.
Generasi Z hidup di masa penuh peluang, tetapi juga penuh tekanan. Tuntutan untuk selalu produktif, selalau berkembang, dan selalu terlihat baik-baik saja sering kali mengabaikan kondisi batin. Kelelahan dan kebingungan sebagai bagian dari sifat manusia yang wajar. Arah hidup sejati tidak hanya berkaitan dengan pencapaian duniawi, tetapi juga tentang tujuan akhir kehidupan. Konsep akhirat memberi pespektif sementara,sedangkan nilai-nilai kebaikan, kejujuran, ketakwaan memiliki jangka Panjang. Ketika manusia hanya fokus pada validasi dunia, ia akan mudah kehilangan arah. Namun ketika ia menepatkan ridha Allah sebagai tujuan, arah hidup menjadi lebih stabil meskipun dunia di sekitarnya berubah-ubah.
Mencari arah di dunia yang ramai juga berarti belajar berserah. Konsep tawakkal mengajarkan keseimbangan antara usaha dan percayaan kepada Allah. Manusia diperintahkan untuk berikhtiar sebaik mungkin, tetapi juga diajarkan untuk menerima hasil dengan lapang dada. Berserah bukan berarti menyerah, melainkan mengakui keterbatasan diri dan percaya bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik. Dalam kesibukan dunia, ada momen-momen yang Allah tetapkan untuk berhenti seperti, waktu shalat agar manusia tidak larut dalam kesibukan kehidupan dunia. Disaat itulah manusia diajak untuk mengevaluasi langkahnya, apakah ia masih berjalan menuju kebaikan, atau sebaliknya terseret arus keramaian.
Pada akhirnya, mencari arah di dunia yang terlalu ramai membutuhkan keseimbangan antara hidup di dunia dan kesadaran spiritual. Dunia mungkin akan terus bising, tuntutan tidak akan pernah berhenti, dan standar keberhasilan akan terus berubah. Namun ketenangan tidak datang dari dunia yang sunyi, melainkan dari hati yang terhubung dengan Allah. Ketika manusia memiliki pegangan iman, ia tidak mudah goyah oleh keramaian. Arah hidupnya mungkin tidak selalu mudah, tetapi ia berjalan dengan keyakinan. Dan ketika arah itu sudah ditemukan, dunia yang ramai tidak lagi terasa menyesakkan, tetapi menjadi tempat untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
*) Andini Ismarni Wati adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.
UMm


