NU Bukan Komoditas, Gus Lilur Serukan Muktamar Bersih dari Kepentingan Politik

  • Bagikan
Gus Lilur saat duduk bersama dengan Kementerian Agama Nasaruddin Umar (Dok. Ist)

Surabaya – harianjatim.com Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), suara kritis datang dari kalangan internal nahdliyin.

HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang dikenal sebagai Gus Lilur menyampaikan kegelisahannya terhadap arah organisasi yang dinilainya semakin bersinggungan dengan kepentingan politik praktis.

Dalam keterangannya, Gus Lilur menegaskan bahwa muktamar kali ini bukan sekadar agenda rutin lima tahunan, melainkan momentum penting yang akan menentukan masa depan NU. Ia mengingatkan agar organisasi tetap berada di jalur keulamaan, sesuai dengan nilai-nilai yang diwariskan para pendiri.

“NU ini didirikan oleh para ulama besar dengan fondasi ilmu dan akhlak, bukan untuk menjadi alat kepentingan kekuasaan,” ujar Gus Lilur dalam sebuah wawancara, Rabu (15/4).

Menurutnya, dinamika yang melibatkan sejumlah tokoh seperti Nusron Wahid dan Saifullah Yusuf menunjukkan semakin kaburnya batas antara organisasi keagamaan dan politik. Ia juga menilai kepemimpinan Yahya Cholil Staquf perlu dievaluasi secara terbuka demi menjaga marwah jam’iyah.

Gus Lilur menekankan bahwa kritik tersebut bukan bersifat personal, melainkan demi menjaga kehormatan organisasi. Ia mengingatkan bahwa jika NU terus terseret dalam pusaran politik, kepercayaan umat berpotensi mengalami penurunan.

“Ini bukan soal pribadi, tapi soal marwah. NU harus dijaga agar tidak menjadi panggung politisi. Kalau dibiarkan, lama-lama kepercayaan umat bisa terkikis,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti fenomena yang disebutnya sebagai “gus-gus nanggung”, yakni pihak-pihak yang memanfaatkan NU untuk kepentingan pribadi dan legitimasi kekuasaan. Ia menyayangkan adanya kecenderungan sebagian pengurus yang lebih fokus membangun jejaring politik daripada memperkuat tradisi keilmuan.

Padahal, menurutnya, NU memiliki kekayaan tradisi intelektual yang kuat, mulai dari pesantren hingga forum bahtsul masail.

“Kita ini punya tradisi besar, punya pesantren, punya bahtsul masail. Tapi kenapa justru yang tampil sering kali bukan yang paling alim, melainkan yang paling dekat dengan kekuasaan,” katanya dengan nada kritis.

Ia menilai seharusnya yang tampil memimpin adalah figur dengan kapasitas keulamaan yang mumpuni, bukan yang dekat dengan kekuasaan.

Gus Lilur juga menegaskan bahwa NU tidak kekurangan tokoh berkualitas. Ia menyebut sejumlah nama yang dianggap memiliki kualitas sebagai interpretasi NU.

“Kalau kita bicara kualitas, ada Nasaruddin Umar, ada Said Aqil Siradj, ada Abdus Salam Shohib, ada Yusuf Chudlory, ada Zulfa Mustofa, juga Bahauddin Nursalim. Mereka jelas kapasitas keulamaannya, jelas intelektualitasnya. NU ini kaya tokoh, jangan sampai yang tampil justru yang itu-itu saja karena faktor politik,” paparnya.

Ia pun mendorong agar muktamar menjadi momentum pemurnian organisasi. Para peserta diharapkan memiliki keberanian moral untuk memilih pemimpin yang berangkat dari tradisi keilmuan, bukan kepentingan elektoral.

“Sudah saatnya kita bilang cukup pada pengurus yang haus kekuasaan. NU bukan batu loncatan politik. Kalau mau berpolitik, silakan di partai, jangan bawa-bawa NU,” ujarnya tegas.

Menurutnya, independensi NU harus tetap dijaga agar organisasi mampu menjadi penyejuk dan penuntun umat. Jika terlalu dekat dengan kekuasaan, peran moral NU dikhawatirkan akan tergerus.

“NU harus berdiri di atas semua golongan, bukan menjadi bagian dari kepentingan tertentu. Itu prinsip yang harus kita jaga,” tambahnya.

Selain itu, ia juga mendorong penguatan ekosistem intelektual NU, mulai dari pesantren, bahtsul masail, hingga pengembangan pemikiran Islam yang relevan dengan tantangan zaman.

“Kalau NU kuat di ilmu, otomatis akan dihormati. Tapi kalau NU sibuk di politik, lama-lama hanya akan diperalat,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Gus Lilur menegaskan bahwa muktamar kali ini merupakan ujian sejarah bagi NU. Ia berharap para kiai dan ulama dapat mengambil keputusan yang berpihak pada masa depan organisasi dan umat.

“Ini bukan soal hari ini saja, ini soal masa depan NU dan umat. Kita mau kembali ke jalan ulama, atau terus terseret arus kekuasaan. Itu yang sedang dipertaruhkan,” pungkas Khalilur R Abdullah Sahlawiy.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Negotiate with confidence : ultimate energy boost guide.