|| Penulis : Ludfi Diana*
Dulu, waktu sebelum tidur identik dengan suara lembut ibu yang membacakan kisah kancil atau putri dari buku cerita yang kertasnya mulai menguning. Kini, suasana hangat itu sering kali tergantikan oleh cahaya biru layar ponsel dan suara video pendek yang terus berputar di genggaman anak-anak. Di tengah kepungan teknologi tersebut, muncul sebuah pertanyaan besar: apakah dongeng masih memiliki tempat di hati generasi layar sentuh?
Kita kerap menyaksikan gawai menjadi “penyelamat” bagi orang tua yang sibuk agar anak dapat duduk tenang. Namun, ada harga mahal yang harus dibayar dari kenyamanan instan tersebut. Ketika layar mulai mengambil alih, dongeng yang dahulu menjadi ruang pertemuan antara orang tua dan anak perlahan menghilang. Masalahnya, konten digital sering kali menyajikan visual yang sudah “jadi”, sehingga anak tidak lagi tertantang untuk mengaktifkan imajinasinya sendiri. Berbeda dengan mendengarkan dongeng, anak dipaksa membangun dunianya sendiri di dalam kepala.
Hal ini sejalan dengan pandangan Maryanne Wolf (2018) tentang pentingnya deep reading, yaitu proses membaca mendalam yang melatih imajinasi dan kemampuan berpikir reflektif, yang cenderung berkurang ketika anak terlalu sering terpapar layar. Lebih dari itu, sastra anak bukan sekadar cerita sebelum tidur, melainkan fondasi pembentukan karakter. Nilai kejujuran, empati, dan keberanian yang terselip dalam sebuah fabel akan jauh lebih membekas dibandingkan tontonan singkat yang hanya mengutamakan kecepatan durasi tanpa makna mendalam. Jerome Bruner (1986) menjelaskan bahwa manusia memahami dunia melalui narasi, sehingga cerita menjadi sarana penting bagi anak untuk mengembangkan empati dan memahami perspektif orang lain.
Selain persoalan imajinasi, ada pula aspek kehangatan yang perlahan hilang ketika dongeng digantikan oleh gawai. Membacakan dongeng sesungguhnya merupakan bentuk quality time paling sederhana, tetapi bermakna. Di dalamnya terdapat interaksi dua arah; anak dapat bertanya, orang tua menjawab, bahkan ada kontak fisik seperti pelukan yang membuat anak merasa aman. Konsep ini dikenal sebagai serve and return interaction dalam perkembangan anak (Center on the Developing Child, Harvard University, 2024), yang berperan penting dalam membangun struktur otak dan kemampuan bahasa anak. Gawai, meskipun canggih, tetaplah benda mati yang tidak mampu memberikan validasi emosional. Interaksi saat mendongeng justru menjadi sarana yang efektif untuk membangun rasa percaya diri dan kemampuan bahasa anak, jauh lebih baik daripada sekadar menonton video di YouTube dengan alur cepat yang mudah membuat anak terdistraksi.
Meski demikian, teknologi tidak dapat sepenuhnya ditolak. Tantangan saat ini adalah bagaimana beradaptasi tanpa menghilangkan esensi dongeng itu sendiri. Sastra anak harus mampu “berteman” dengan teknologi tanpa kehilangan jati dirinya. Dongeng mungkin tidak lagi hadir hanya melalui buku fisik, tetapi juga melalui audiobook atau aplikasi interaktif yang tetap mengedepankan narasi berkualitas. Fenomena ini sejalan dengan konsep transmedia storytelling yang dikemukakan Henry Jenkins (2006), yaitu sebuah cerita dapat berpindah lintas media tanpa kehilangan makna utamanya. Kuncinya terletak pada kemampuan orang tua dalam melakukan kurasi konten. Jika orang tua mampu memilihkan konten digital yang tetap memiliki nilai sastra, dongeng akan tetap relevan. Dongeng tidak harus mati karena gawai; ia hanya perlu menemukan cara baru untuk diceritakan kembali di era yang berbeda.
Selain itu, dongeng juga memiliki peran penting dalam memperkenalkan anak pada budaya dan identitas lokal. Banyak cerita rakyat tidak hanya menghibur, tetapi juga memuat nilai-nilai kearifan lokal yang membentuk cara pandang anak terhadap lingkungan sekitarnya. Ketika anak lebih sering terpapar konten digital global, muncul risiko mereka menjadi asing terhadap cerita-cerita dari budayanya sendiri. Di sinilah peran dongeng semakin penting, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai dan identitas budaya yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh konten digital modern. Danandjaja (1984) menegaskan bahwa folklor merupakan sarana penting dalam mewariskan nilai budaya kepada masyarakat. Tanpa paparan tersebut, anak berisiko kehilangan kedekatan dengan identitas budayanya sendiri di tengah arus globalisasi.
Pada akhirnya, dongeng bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cara membentuk masa depan anak-anak. Meskipun layar ponsel kini mendominasi keseharian, posisi sastra anak sebagai media pembentuk empati dan kreativitas tidak akan pernah sepenuhnya tergantikan oleh algoritma. Dongeng tetap relevan karena manusia pada dasarnya selalu membutuhkan narasi untuk memahami dunia. Selama masih ada rasa ingin tahu dalam diri seorang anak, dongeng akan selalu memiliki tempat, apa pun bentuk medianya.
Orang tua tidak perlu merasa bersalah menggunakan teknologi, tetapi jangan sampai menjadikannya satu-satunya “pengasuh” bagi anak. Mulailah menyisihkan waktu, setidaknya 15 menit sebelum tidur, untuk kembali membangun tradisi bercerita. Di sisi lain, penulis sastra anak juga perlu lebih kreatif dalam mengemas pesan moral agar tidak terkesan menggurui, sehingga dongeng tetap mampu bersaing dengan daya tarik konten visual modern yang serba cepat.
Pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita: membiarkan anak tumbuh mengikuti arus teknologi tanpa arah, atau mendampinginya dengan cerita-cerita yang membentuk hati dan pikirannya. Di tengah dunia yang semakin cepat, mungkin justru dongeng adalah cara paling sederhana untuk menjaga anak tetap “utuh” sebagai manusia.
Daftar Pustaka
Bruner, J. (1986). Actual Minds, Possible Worlds. Harvard University Press.
Center on the Developing Child at Harvard University. (2024). InBrief: The Science of Early Childhood Development.
Danandjaja, J. (1984). Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Grafiti Pers.
Jenkins, H. (2006). Convergence Culture: Where Old and New Media Collide. NYU Press.
Wolf, M. (2018). Reader, Come Home: The Reading Brain in a Digital World. Harper.
||* Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


