Petani Tembakau Sumenep Minta Perlindungan dan Dukungan Pemerintah

  • Bagikan
Salah satu petani saat mengolah sawah untuk ditanami tembakau. (foto: harianjatim)

Reporter: harianjatim

Sumenep-harianjatim.com. Memasuki musim tanam tembakau 2026, para petani di Kabupaten Sumenep mulai menyiapkan lahan dan persemaian bibit. Di tengah harapan meraih hasil panen yang baik, mereka juga dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari meningkatnya biaya produksi hingga ketidakpastian kebijakan yang dinilai berpengaruh terhadap keberlangsungan usaha tani tembakau.

Petani sekaligus aktivis pertanian di Sumenep, Ja’far, mengatakan tembakau hingga kini masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat Madura, khususnya di wilayah pedesaan. Karena itu, ia menilai pemerintah perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap keberlangsungan sektor pertembakauan dan kesejahteraan petaninya.

“Petani tidak menolak regulasi yang bertujuan melindungi kesehatan masyarakat. Namun, pemerintah juga perlu memperhatikan dampak ekonomi yang ditimbulkan terhadap petani yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor tembakau,” ujar Ja’far.

Menurut dia, kebijakan yang berkaitan dengan sektor pertembakauan seharusnya disusun secara berimbang dengan mempertimbangkan aspek kesehatan sekaligus keberlangsungan ekonomi masyarakat. Pasalnya, tembakau tidak hanya menjadi komoditas pertanian, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi di berbagai daerah penghasil.

Ja’far menilai keberlangsungan sektor pertembakauan berkaitan erat dengan kehidupan ribuan keluarga di Madura. Tidak hanya petani, tetapi juga buruh tani, pedagang sarana produksi, pelaku transportasi, hingga usaha mikro yang tumbuh dari aktivitas ekonomi sektor tersebut.

“Perekonomian masyarakat Madura tidak bisa dilepaskan dari tembakau. Jika pemerintah ingin menjaga roda ekonomi daerah tetap bergerak, maka komoditas tembakau harus dilindungi dan petaninya didukung. Pemerintah harus hadir, tidak hanya melalui regulasi, tetapi juga lewat bantuan, pendampingan, dan pemberdayaan yang berkelanjutan,” katanya.

Selain persoalan regulasi, petani juga menghadapi meningkatnya biaya produksi. Harga benih, pupuk, pestisida, hingga upah tenaga kerja mengalami kenaikan dibandingkan musim tanam tahun sebelumnya. Kondisi tersebut membuat kebutuhan modal usaha tani semakin besar sebelum memasuki masa panen.

Di sisi lain, distribusi pupuk bersubsidi masih menjadi persoalan yang dikeluhkan petani. Menurut Ja’far, akses terhadap pupuk bersubsidi belum sepenuhnya menjangkau kebutuhan petani tembakau, padahal pupuk merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas dan kualitas hasil panen.

“Petani membutuhkan kepastian, baik terkait akses sarana produksi maupun keberlangsungan usaha tani ke depan. Jangan sampai petani menanggung risiko besar sendirian tanpa dukungan yang memadai,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dapat memperkuat kebijakan yang berpihak kepada petani. Dukungan tersebut antara lain melalui penyediaan pupuk bersubsidi yang tepat sasaran, pendampingan budidaya, perlindungan terhadap keberlangsungan usaha tani, serta upaya menjaga stabilitas harga ketika musim panen tiba.

Bagi petani, lanjut Ja’far, keberhasilan musim tanam tidak hanya ditentukan oleh faktor cuaca dan kualitas produksi, tetapi juga oleh sejauh mana negara hadir memberikan kepastian dan perlindungan terhadap sektor yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat.

“Yang kami harapkan sederhana, petani tetap bisa menanam dengan tenang, memperoleh hasil panen yang baik, dan mendapatkan penghasilan yang layak dari kerja keras mereka,” tuturnya.


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Nordicnodes | professional saas tools for everyone.