|| Penulis : Sapa Redaksi*
Seratus tahun perjalanan Nahdlatul Ulama bukan hanya cerita tentang pergantian nama di pucuk kepengurusan. Di balik setiap pergantian kepemimpinan terdapat perubahan zaman, tantangan bangsa, dan cara NU menempatkan dirinya di tengah masyarakat.
Nahdlatul Ulama lahir di Surabaya pada 31 Januari 1926. Sejak awal, organisasi ini memiliki dua poros kepemimpinan: Syuriyah sebagai pengarah dan penjaga kehidupan keagamaan organisasi, serta Tanfidziyah yang menjalankan roda organisasi. Dalam struktur tersebut, Rais Aam menjadi pimpinan tertinggi di jajaran Syuriyah, sementara Ketua Umum memimpin Tanfidziyah.
Pada masa awal, Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari menjadi Rais Akbar. Ia mendampingi perjalanan awal NU bersama KH Hasan Gipo yang menjadi Ketua Tanfidziyah pertama. Masa itu adalah masa ketika NU tumbuh dari lingkungan pesantren dan jaringan ulama untuk menjawab perubahan sosial-keagamaan sekaligus situasi kebangsaan yang sedang bergerak menuju Indonesia merdeka.
Kepemimpinan KH Hasyim Asy’ari berlangsung hingga 1947. Setelah itu estafet Rais Aam diteruskan KH Abdul Wahab Chasbullah hingga 1971. Berikutnya KH Bisri Syansuri, KH Ali Maksum, KH Achmad Siddiq, KH Ali Yafie, KH Moh Ilyas Ruhiyat, KH MA Sahal Mahfudh, KH Mustofa Bisri, KH Ma’ruf Amin, dan kemudian KH Miftachul Akhyar.
Sementara di jajaran Tanfidziyah, sejarahnya bergerak dengan dinamika yang tidak kalah panjang. Setelah Hasan Gipo, kepemimpinan berturut-turut dilanjutkan KH M Noer, KH Mahfoedh Siddiq, KH M Noer, KH Nachrowi Thohir, KH Moh Dachlan, KH Abdul Wahid Hasyim, KH Masykur, KH Moh Dachlan, hingga KH Idham Chalid.
Idham Chalid menjadi salah satu tokoh dengan masa kepemimpinan terpanjang. Ia memimpin PBNU selama hampir tiga dekade, 1956-1984. Masa tersebut mencakup periode penting dalam sejarah Indonesia: peralihan politik, pergantian rezim, hingga perubahan hubungan organisasi kemasyarakatan dengan negara.
Setelah Idham Chalid, NU memasuki babak yang berbeda bersama KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia memimpin PBNU pada 1984-1999.
Gus Dur tidak hanya dikenal sebagai tokoh organisasi, tetapi juga sebagai salah satu figur penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Di tangannya, gagasan tentang Islam, kemanusiaan, demokrasi dan kebangsaan memperoleh ruang yang luas dalam percakapan publik.
Pergantian kepemimpinan berikutnya membawa NU ke era KH Ahmad Hasyim Muzadi pada 1999-2010. Setelah itu, KH Said Aqil Siroj memimpin PBNU selama 2010-2021.
Pada periode Said Aqil, NU menghadapi perubahan lanskap sosial yang cepat. Teknologi informasi berkembang, politik identitas menguat, dan perdebatan mengenai posisi Islam dalam demokrasi semakin luas. NU dituntut tidak hanya menjaga tradisi keagamaan, tetapi juga merespons perubahan sosial yang semakin kompleks.
Muktamar ke-34 di Lampung pada 2021 kemudian memilih KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU untuk masa khidmah 2021-2026. Kepemimpinan Gus Yahya berlangsung ketika NU memasuki fase baru setelah satu abad berdiri.
Namun, pergantian kepemimpinan NU tidak pernah semata-mata soal siapa yang memperoleh jabatan. Setiap Muktamar selalu menjadi ruang untuk membaca kembali arah organisasi.
Hal itu pula yang terlihat pada Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27-31 Agustus 2026. Muktamar merupakan forum permusyawaratan tertinggi NU untuk menetapkan keputusan strategis dan kepengurusan organisasi.
Pemilihan kepemimpinan baru menghasilkan pasangan yang melanjutkan sekaligus menyambung mata rantai sejarah NU. KH Miftachul Akhyar ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031. Sementara KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU untuk periode yang sama.
Gus Kikin bukan nama yang asing dalam lingkungan pesantren dan NU. Ia berasal dari lingkungan Pesantren Tebuireng dan memiliki hubungan kuat dengan tradisi pesantren yang menjadi salah satu akar penting NU.
Pemilihannya melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi atau AHWA juga memperlihatkan karakter khas tata kelola kepemimpinan NU. Penetapan dilakukan melalui musyawarah, setelah lima nama calon Ketua Umum memenuhi persyaratan dan mendapatkan persetujuan Rais Aam terpilih.
Yang menarik justru bukan hanya siapa yang terpilih, tetapi pesan yang mengiringi pergantian tersebut.
AHWA menitipkan amanat agar Rais Aam terpilih merangkul seluruh potensi yang ada di tubuh NU dan mengajak berbagai unsur untuk bersama-sama merawat serta mengurus organisasi.
Pesan itu terasa penting jika melihat sejarah NU.
Organisasi sebesar NU tidak dibangun oleh satu generasi dan tidak pula bertahan hanya karena satu figur. Ia tumbuh dari jaringan pesantren, ulama, santri, jamaah, lembaga pendidikan, badan otonom, badan usaha, serta jutaan warga yang menjadikan NU bukan sekadar organisasi, tetapi bagian dari kehidupan sosial mereka.
Karena itu, setiap pergantian kepemimpinan selalu membawa pertanyaan yang lebih besar: apa yang harus dipertahankan dan apa yang harus diperbarui?
Pertanyaan itu semakin relevan setelah NU melewati satu abad perjalanan.
Generasi awal NU menghadapi kolonialisme dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Generasi berikutnya berhadapan dengan perubahan politik nasional. Era Gus Dur membawa NU semakin kuat ke ruang demokrasi dan kemanusiaan. Kepemimpinan setelahnya menghadapi globalisasi, perubahan teknologi, politik identitas, ekonomi digital, hingga tantangan generasi muda.
Hari ini persoalannya semakin kompleks.
NU harus tetap memiliki akar yang kuat pada tradisi keilmuan pesantren, tetapi sekaligus mampu menjawab dunia yang berubah sangat cepat. Pendidikan pesantren harus mampu berdialog dengan teknologi. Ekonomi warga NU perlu bergerak dari sektor informal menuju rantai nilai yang lebih produktif. Organisasi harus mampu menjaga tradisi tanpa kehilangan kemampuan membaca masa depan.
Di sinilah kepemimpinan PBNU 2026-2031 akan diuji.
Sejarah memberikan modal sosial yang besar, tetapi sejarah juga dapat menjadi beban jika hanya dirayakan tanpa diteruskan dalam bentuk kerja nyata.
NU tidak kekurangan pengalaman. Yang dibutuhkan adalah kemampuan mengubah pengalaman itu menjadi kebijakan yang relevan.
Muktamar ke-35 di Tambakberas karena itu bukan sekadar pergantian kepengurusan. Ia merupakan salah satu titik dalam perjalanan panjang NU untuk menentukan bagaimana organisasi ini memasuki babak berikutnya.
Dari KH Hasyim Asy’ari dan KH Hasan Gipo hingga Miftachul Akhyar dan Gus Kikin, nama-nama yang pernah memimpin PBNU datang dari zaman yang berbeda. Tantangan mereka pun berbeda.
Namun, terdapat satu benang merah: NU selalu berusaha menjaga hubungan antara tradisi keislaman, kehidupan masyarakat dan kepentingan kebangsaan.
Kini, setelah satu abad, tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana mempertahankan organisasi agar tetap hidup.
Tantangannya adalah bagaimana membuat NU tetap relevan.
Relevan bagi santri yang hidup di tengah revolusi digital. Relevan bagi petani dan nelayan yang menghadapi perubahan ekonomi dan iklim. Relevan bagi pelaku usaha kecil yang membutuhkan akses pasar. Relevan bagi anak muda yang mencari ruang untuk berkontribusi. Dan relevan bagi bangsa yang membutuhkan kekuatan sosial untuk menjaga persatuan di tengah perubahan.
Karena itu, mengenang kepengurusan PBNU dari masa ke masa tidak semestinya berhenti pada daftar nama dan tahun jabatan.
Sejarah kepemimpinan NU adalah cermin tentang bagaimana sebuah organisasi keagamaan berusaha bertahan melewati pergantian zaman.
Muktamar 2026 telah memilih kepemimpinan baru. Kini, sejarah kembali bergerak.
Nama-nama akan tercatat. Masa khidmah akan berjalan. Tetapi pada akhirnya, yang akan dikenang bukan hanya siapa yang pernah memimpin PBNU.
Yang lebih penting adalah apa yang mereka tinggalkan.
Sebab, organisasi sebesar NU pada akhirnya tidak diukur hanya dari lamanya usia, banyaknya struktur, atau besarnya jumlah warga.
Ia akan diukur dari kemampuannya menjaga nilai, merawat persatuan, dan memberi jawaban atas persoalan masyarakat pada setiap zaman.
||* Tim Kreator HarianJatim.Com
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


