Mengenal Topeng Dalang Kesenian Daerah Sumenep

  • Bagikan
Mengenal Topeng Dalang Kesenian Daerah Sumenep. (Foto : pulaumadura.com)

Sumenep – Harianjatim.com, Seni topeng merupakan bentuk kesenian teater rakyat tradisional yang paling kompleks dan utuh. Hal tersebut disebabkan dalam kesenian topeng mengandung unsur cerita, unsur tari, unsur musik, unsur pedalangan dan unsur kerajinan, sehingga bentuk kesenian ini, dianggap paling pas untuk digunakan sebagai media dakwah dengan tanpa menghilangkan unsur hiburannya yang kental dengan aroma kerakyatan.

Khusus di Sumenep Madura, seni topeng yang dikenal dengan topeng Dalang Madura ada 2 versi, yaitu versi Slopeng dan versi Kalianget. Paling sedikitnya ada 7 perbedaan yang menjadi awal timbulnya ke dua versi tersebut.

“Pada versi Kalianget, tarian ekstranya berupa tarian Branyak dan Puteri Kembar. Sedangkan versi Slopeng tarian ekstranya berupa Klono Tonjung Seto (tari tunggal) dan Puteri Kembar. Warna topeng (tokop) tertentu berbeda, pada versi Kalianget misalnya Gatotkaca berwarna merah, sedangkan versi Slopeng berwarna putih,”kata R. Abd. Karim, salah satu pemerhati budaya di Sumenep, dilansir website Pemerintah Kabupaten Sumenep beberapa waktu lalu.

Kemudian penggunaan ghungseng pada pemain kasar versi Kalianget, menurut Karim hanya di kaki kanan, dan di versi Slopeng ghungseng dipakai pada ke dua kaki. Tarian dalam versi Kalianget relatif mudah tak seperti versi Slopeng yang bervariasi. Punakawa di versi Kalianget hanya Semar dan Bagong, namun di versi Slopeng ditambah Petruk dan Garing.

“Kumis topeng pun beda, pada versi Kalianget cukup dicat hitam, sedangkan di versi Slopeng dibuat dari ijuk yang mirip sikat dan dicat hitam,”tambah salah satu pakar bahasa Madura ini,” jelasnya.

Dalam setiap pementasan, seluruh pemain Topeng Dalang serta para penari didominasi pemain laki-laki. Setiap pementasan dibutuhkan penari sebanyak 15 sampai 25 orang dalam setiap lakon, yang dipentaskan semalam suntuk. Adapun aksesoris yang dibutuhkan para pemain meliputi, taropong, sapiturung, ghungseng, kalong (kalung) rambut dan badung, sedangkan untuk pemeran wanita, aksesoris tambahan berupa, sampur, kalung ular, gelang dan jhamang.

Dalam perjalanannya, menurut Karim, topeng dalang mulai menjadi bagian dari hiburan kalangan ningrat atau keraton, setelah sebelumnya identik dengan teater rakyat. Ini terjadi di kurun abad 18. Seni inipun mulai merambah Madura sebagai efek dari perkawinan politik para raja.

“Di abad ke 20, setelah kerajaan-kerajaan mulai hilang dari bumi Madura, topeng dalang kembali menjadi kesenian rakyat dan mencapai puncak kesuburannya sampai tahun 1960. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya group kesenian, banyaknya dalang dan banyaknya pengrajin topeng di berbagai pelosok.

Memasuki dekade 1960-an, topeng dalang mengalami masa surut. Hal ini disebabkan banyaknya tokoh-tokoh topeng yang meninggal dunia, sedangkan tokoh-tokoh muda belum muncul dan menguasai seni topeng dalang,”jelasnya.

Kemudian tahun 1970-an topeng dalang kembali bangkit dan itu tidak terlepas dari jasa dalang tua Sabidin (Kalianget, Sumenep), yang tetap bertahan dan eksis dalam menggeluti topeng dalang sekaligus mendidik kader-kader muda yang berasal dari beberapa daerah di wilayah Sumenep. Pengkaderan diprioritaskan pada penguasaan materi pedalangan maupun mendidik penari-penari topeng.

“Kerja keras dalang Sabidin membuahkan hasil, murid-murid hasil didikannya mampu menguasai dan melestarikan kembali seni topeng dalang,” tutupnya.

Baca Juga :

(Jd/Red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Nordicnodes | professional saas tools for everyone.