|| Penulis : Erwin Prastyo*
Pada salah satu episode Teach You A Lesson, seorang guru harus menghadapi tuduhan melakukan kekerasan terhadap murid. Tuduhan itu bukan karena guru tersebut melakukan tindakan yang membahayakan, melainkan karena orang tua murid menilai teguran dan disiplin yang diberikan telah melampaui batas.
Guru tersebut kemudian diteror melalui nomor pribadi, dipantau, bahkan menghadapi ancaman kehilangan karier sebagai pendidik. Di sisi lain, murid yang bersangkutan justru tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dipenuhi konflik, kemarahan, dan pertengkaran.
Adegan tersebut seharusnya hanya menjadi bagian dari drama. Namun ketika layar dimatikan, kita menyadari bahwa persoalan serupa tidak sepenuhnya asing dalam dunia pendidikan Indonesia.
Itulah yang membuat Teach You A Lesson menarik. Drama ini tidak sekadar bercerita tentang sekolah, melainkan mengajak penonton memasuki ruang yang selama ini jarang dibicarakan secara terbuka: relasi kuasa antara guru, murid, orang tua, dan negara.
Serial tersebut memperlihatkan bagaimana pendidikan dapat kehilangan arah ketika setiap pihak sibuk menuntut hak, tetapi lupa menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya.
Sebagai seorang pendidik, penulis melihat serial ini bukan hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai sebuah cermin. Dan seperti cermin pada umumnya, pantulan yang ditampilkan tidak selalu menyenangkan.
Lunturnya Pesan Ki Hadjar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara telah mengingatkan bahwa pendidikan bertumpu pada tiga pilar utama: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiganya tidak dapat berjalan sendiri, melainkan harus saling mendukung dalam membentuk manusia yang utuh.
Namun realitas hari ini menunjukkan kecenderungan berbeda. Sekolah semakin sering menjadi pihak yang memikul hampir seluruh beban pendidikan.
Ketika anak tidak disiplin, sekolah disalahkan. Ketika anak mengalami persoalan perilaku, guru dipertanyakan. Ketika karakter anak tidak berkembang, sekolah kembali menjadi sasaran kritik.
Sementara itu, sebagian keluarga perlahan menjauh dari tanggung jawab pendidikan.
Fenomena tersebut tergambar dalam Teach You A Lesson. Ada orang tua yang terlalu protektif terhadap anak, tetapi abai terhadap proses pendidikan yang sebenarnya. Ada pula yang membela anak dalam segala situasi, bahkan ketika anak melakukan kesalahan.
Di sisi lain, sebagian keluarga terlalu sibuk mengejar pencapaian ekonomi hingga kehilangan waktu untuk mendampingi pertumbuhan anak.
Akibatnya, sekolah sering diperlakukan seperti “laundry sosial”. Berbagai persoalan yang terbentuk di rumah dan lingkungan dibawa ke sekolah, lalu guru dituntut menyelesaikan semuanya.
Padahal pendidikan tidak pernah dirancang untuk bekerja sendirian.
Pendidikan Harus Membebaskan
Salah satu pesan penting dari drama ini adalah bahwa sekolah tidak pernah benar-benar terpisah dari struktur sosial di luar temboknya.
Pada bagian awal cerita, digambarkan seorang murid dari keluarga berpengaruh yang menggunakan status sosial keluarganya untuk menekan teman maupun guru. Kekuasaan orang tua kemudian berubah menjadi kekuasaan anak.
Sekilas hal itu tampak sebagai konflik fiksi. Namun dalam realitas pendidikan, persoalan semacam ini bukan sesuatu yang mustahil terjadi.
Tidak semua anak datang ke sekolah dengan posisi yang sama. Ada yang membawa modal sosial, ekonomi, bahkan pengaruh politik. Dalam kondisi tertentu, kekuatan tersebut dapat memengaruhi keputusan sekolah, mengubah aturan, bahkan membatasi ruang profesional guru.
Paulo Freire menyebut pendidikan sebagai proses pembebasan manusia dari berbagai bentuk penindasan. Pendidikan tidak boleh tunduk pada kekuasaan tertentu. Ia harus berdiri di atas prinsip keadilan.
Ketika guru takut mengambil keputusan profesional karena tekanan orang tua atau atasan, ketika sekolah tunduk kepada pemilik pengaruh, dan ketika kebenaran dikalahkan oleh kekuasaan, pendidikan sesungguhnya sedang kehilangan fungsi pembebasannya.
Guru yang Belum Merdeka
Pertanyaan penting yang muncul setelah menyaksikan drama ini adalah: apakah guru benar-benar masih memiliki kemerdekaan untuk mendidik?
Ki Hadjar Dewantara memandang guru sebagai pamong yang menuntun tumbuhnya potensi anak. Namun bagaimana seorang guru dapat menuntun jika setiap langkahnya selalu dicurigai?
Bagaimana guru dapat memerdekakan murid jika dirinya sendiri belum memiliki ruang kemerdekaan?
Guru yang hidup dalam ketakutan akan sulit melahirkan keberanian berpikir. Guru yang kehilangan otoritas profesional akan kesulitan menanamkan karakter.
Kemerdekaan guru bukan berarti bebas bertindak tanpa batas. Kemerdekaan guru adalah ruang profesional agar pendidik dapat menjalankan tugas secara objektif, adil, dan bertanggung jawab.
Negara dan Tantangan Pemerataan Pendidikan
Teach You A Lesson juga memberikan refleksi tentang peran pemerintah dalam pendidikan.
Negara memiliki tanggung jawab besar meningkatkan kualitas pendidikan. Namun pendidikan yang sehat tidak selalu lahir dari semakin banyak kontrol, klasifikasi, dan pelabelan.
Pemerintah seharusnya lebih fokus menyelesaikan akar persoalan pendidikan daripada memperbanyak kategori yang berpotensi menciptakan jarak baru.
Kebijakan pengelompokan atau pemeringkatan sekolah mungkin terlihat menjanjikan di atas kertas. Namun dalam praktiknya, kebijakan semacam itu dapat melahirkan stigma: sekolah unggulan dan sekolah tertinggal, sekolah favorit dan sekolah kelas dua.
Akibatnya, energi pendidikan bisa habis untuk mengejar label, bukan memperbaiki kualitas.
Padahal yang dibutuhkan pendidikan Indonesia bukan semakin banyak klasifikasi, melainkan pemerataan mutu. Bukan memperlebar perbedaan, tetapi memperkuat dukungan bagi sekolah yang membutuhkan.
Negara harus hadir untuk mengurangi kesenjangan, bukan tanpa sadar mempertegasnya.
Cermin yang Mengajak Berbenah
Teach You A Lesson bukan sekadar kisah tentang guru, murid, atau sekolah. Ia adalah kisah tentang orang-orang dewasa yang belum sepenuhnya menjalankan perannya.
Tentang orang tua yang ingin didengar tetapi lupa mendengar. Tentang guru yang ingin mendidik tetapi kehilangan ruang untuk mendidik. Tentang negara yang ingin mengatur tetapi belum selalu memahami persoalan di lapangan.
Drama ini terasa dekat karena yang dipantulkannya adalah wajah pendidikan kita sendiri.
Dan seperti setiap cermin yang jujur, pantulan itu tidak selalu membuat nyaman.
Pertanyaannya, setelah melihat wajah pendidikan yang terpampang di hadapan kita, apakah kita akan memperbaikinya atau justru menyalahkan cerminnya?
||* Praktisi Pendidikan Dasar & Penulis Buku Esok Kita Cerita tentang Hari Ini: Catatan Refleksi Pengalaman Belajar (2026)
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.
(Rls/Red)


